Merawat Bumi dengan Melestarikan Hutan

Sekitar 31 persen permukaan bumi merupakan wilayah hutan, jadi melestarikan hutan sama halnya dengan merawat bumi dan mengendalikan temperaturnya yang beberapa dekade terakhir semakin panas.

oleh Liputan6Diterbitkan 21 April 2011, 15:39 WIB
Citizen6, Bogor: Bumi, tempat hidup 7 miliar umat manusia beserta makhluk lainnya haruslah dijaga. Usianya yang telah mencapai 4,5 miliar tahun, menandakan bahwa planet ini sudah tua dan membutuhkan perawatan. Melestarikan hutan sama halnya dengan merawat bumi dan mengendalikan temperaturnya yang beberapa dekade terakhir semakin meningkat. Sekitar 31 persen permukaan bumi merupakan wilayah hutan.

Kawasan yang merupakan rumah bagi 80 persen keanekaragaman hayati daratan dunia ini memproses unsur-unsur penyusun kehidupan, dan sangat vital dalam mempertahankan keseimbangan ekologis bumi. Menyelamatkan hutan berarti pula menyelamatkan makhluk hidup di dalamnya, termasuk manusia.

Hutan merupakan lumbung keragaman hayati yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pangan, papan, obat-obatan, hingga sumber daya genetik. Hutan adalah paru-paru dunia, dimana hidup hampir seperempat penduduk bumi, dan menjadi tempat tinggal 300 juta orang di seluruh dunia.

Hutan tropis, termasuk hutan yang harus dijaga kelestariannya. Pada konferensi iklim dan hutan 2010 di Oslo, Norwegia, terungkap bahwa secara global hutan tropis dapat menyerap emisi karbon hingga 17 persen dan berperan besar dalam mengatasi perubahan iklim. Namun, kondisi hutan tropis juga menghadapi permasalahan besar terutama deforestasi yang mencapai angka 13 juta hektar per tahunnya. Deforestasi yang terjadi pada kawasan hutan tropis sangat berpengaruh terhadap kehidupan burung. Sekitar lima puluh persen jenis burung di dunia terancam punah karena hutan sebagai habitat utamanya telah terusik.

Di Indonesia sendiri, dari seluruh jenis burung yang terancam punah, lebih dari setengahnya tinggal di hutan. Jenis-jenisnya antara lain, Merpati Hutan (Columba sp.), Uncal (Macropygia sp.), Delimukan (Chalcopaps sp. dan Gallicolumba sp.), Pergam (Ducula sp.), dan Walik (Ptilinopus sp.) merupakan keluarga merpati yang memiliki ketergantungan sangat tinggi dengan habitat hutan. Tak mengherankan jika dari 122 jenis yang terancam punah di Indonesia, 12 jenis di antaranya juga merupakan Suku Collumbidae.

Sebagaimana kondisi hutan tropis yang ada di dunia, Hutan Indonesia juga menghadapi tekanan berat. Illegal logging, perambahan, dan alih fungsi hutan merupakan serangkaian kegiatan yang menjadi penyebab kerusakan hutan di Indonesia. Kerusakan hutan mengancam kelestarian keanekaragaman hayati, mengganggu sistem ekologi alam yang telah tertata, dan mengancam pula kehidupan manusia.

Sekitar 40 juta penduduk Indonesia bergantung secara langsung pada sumber daya hutan (kayu, rotan, kayu bakar) serta jutaan penduduk lainnya memperoleh manfaat secara tidak langsung. Bila dilihat lebih dekat, kawasan Sumatera dan Kalimantan merupakan wilayah yang hutannya paling berat menghadapi tekanan.

Kajian Hansen dan Kolega (2009) menunjukkan bahwa 70% perusakan Hutan di Indonesia terkonsentrasi di kawasan tersebut. Bahkan, sejak tahun 1990, tutupan hutan dataran rendah Sumatera dan Kalimantan berkurang hingga 41%. Kesadaran untuk merawat bumi sudah sewajarnya ditanamkan sejak dini, karena erat kaitannya dengan keberlangsungan hidup makhluk di dalamnya, termasuk manusia. Menyelamatkan hutan menjadi solusi yang bisa dijalankan untuk merawat bumi. (Pengirim: Rahmadi Rahmad)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya