Bulutangkis di Lombok dan Harapan Memiliki Pemain Level Dunia

Lombok berharap bisa memiliki pebulutangkis yang punya kiprah bagus di kancah internasional.

oleh Rizki HidayatDiterbitkan 12 Februari 2018, 23:20 WIB
Ratusan anak-anak di Mataram dan Lombok mengikuti coaching clinic yang dihelat oleh PB Djarum, di GOR Turide Mataram, 9 sampai 10 Februari 2018. (dok. PB Djarum)

Mataram - Ratusan anak di Mataram, Lombok dan sekitarnya memerhatikan dengan seksama arahan dari bintang dan legenda bulutangkis nasional. Mereka antusias mengikuti coaching clinic yang dihelat PB Djarum di GOR Turide.

Pukulan raket dan teriakan terdengar saat memasuki GOR Turide, Mataram. Anak-anak usia di bawah 13 tahun dan di atas 13 tahun berpeluh keringat mengikuti pelatihan yang dihelat PB Djarum tersebut.

Meski keringat terus mengucur dan lelah yang melanda, semangat ratusan anak itu untuk menjalani sesi latihan singkat sama sekali tak menurun. Bahkan, beberapa anak mampu melepaskan smes keras ke arah para pelatih, satu di antaranya adalah Lilyana Natsir.

Acara berlabel Djarum Badminton All Star dan Coaching Clinic dari Jumat (9/2/2018) hingga Sabtu (10/2/2018) itu, menjadi salah satu wadah bagi pebulutangkis muda di Mataram serta Lombok untuk mengasah kemampuan bermain bulutangkis.

"Dari dua hari terakhir, saya melihat beberapa pemain-pemain muda yang memiliki potensi bermain bulutangkis untuk dikembangkan lebih lanjut. Sudah ada yang kelihatan, tinggal diasah saja terus," jelas Liliyana.

Mataram, Lombok, dan Nusa Tenggara Barat (NTB) pada umumnya memiliki banyak pebulutangkis muda berbakat, contohnya adalah Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira. Wahyu yang berasal dari Lombok Timur mendapat kesempatan memperkuat sejumlah klub besar di pulau Jawa, satu di antaranya adalah PB Djarum.

Setelah ditempa bersama klub, Wahyu mendapatkan panggilan untuk masuk ke Pelatnas PBSI. Dia sukses mengharumkan nama Lombok dan Indonesia di kancah internasional lewat prestasi yang diukir.

Turun di nomor ganda campuran, Wahyu yang kini berumur 25 tahun telah merengkuh sejumlah titel juara, mulai dari Belanda Terbuka 2013, Thailand Terbuka 2015, hingga Indonesia Masters 2016.

Prestasi yang ditorehan Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira tak lepas dari dukungan penuh kedua orang tuanya. Dukungan moril serta materil membuat Wahyu bisa bergabung dengan sebuah klub besar untuk pertama kalinya di Kediri pada April 2002.

 


Dilema Pebulutangkis Muda di Mataram dan Lombok

Lilyana Natsir memberikan pelatihan kepada anak-anak dalam acara Djarum Badminton All Star dan Coaching Clinic, di GOR Turide, Mataram, sejak Jumat (9/2/2018) hingga Sabtu (10/2/2018). (dok. PB Djarum)

Nasib sebagian besar anak-anak di Kota Mataram ataupun Lombok tidak seberuntung Wahyu Nayaka. Berbagai kendala harus dihadapi demi bisa menjadi pebulutangkis level dunia.

Lanjut Baca:

Keterbatasan dana menjadi faktor utama sulitnya pemain bulutangkis usia muda di Mataram dan Lombok untuk berkembang. Berbagai turnamen bergengsi tingkat amatir atau seleksi klub-klub besar lebih sering dihelat di Pulau Jawa. "Untuk bisa mengirimkan atlet ke daerah lain demi mengikuti turnamen terbentur dana pembinaan yang terbatas. Mungkin kami hanya bisa mengirimkan atlet sekali setahun untuk mengikuti kejurnas," jelas Sekertaris Umum PBSI NTB, Ir. Muhamad Iqbal M.P. "Dari segi kualitas, Mataram atau NTB tidak kalah dari daerah lain. Cuma itu kami tidak memiliki kemampuan untuk mengirimkan atlet mengikuti pertandingan di luar daerah, karena keterbatasan dana," lanjut pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Umum KONI NTB tersebut. Selain dana, minimnya dukungan orang tua dan faktor pendidikan memengaruhi perkembangan sang anak dalam bermain bulutangkis. Sebagain besar orang tua di Mataram dan Lombok lebih mengutamakan pendidikan, serta menganggap bulutangkis hanya sebagai ekstrakulikuler. "Perkembangan atlet bulutangkis di NTB cukup bagus cuma tak maksimal, karena pikiran anak-anak terbagi dua. Pagi mereka harus sekolah dan sore harinya latihan, itu pun hanya lima kali seminggu," ucap Sofyan Yaman, pelatih klub PB Warna Agung, Mataram. "Berbeda dengan latihan atlet di Pulau Jawa yang bisa berlatih dua kali sehari dalam seminggu. Pemain-peman di sini banyak yang berbobot, akan tetapi mereka tak mampu mengalahkan pemain dari Pulau Jawa. Itu karena intensitas latihan anak-anak di sini kurang," lanjutnya. Fasilitas yang memadai juga memengaruhi perkembangan anak-anak di Mataram, Lombok, serta NTB pada umumnya. Sebagian besar klub di Pulau Lombok tak memiliki gedung sendiri. Dari delapan klub di Kota Mataram, hanya dua yang memiliki gedung sendiri, yakni PB Warna Agung dan PB Rudis. Sementara itu, klub-klub lainnya harus menyewa gedung dengan dana dari iuran anak-anak yang mengikuti latihan. "Yang tidak punya gedung harus menyewa gedung, dengan biaya sewa satu lapangan Rp 25 ribu untuk satu jam yang biasanya harus memakai tiga lapangan, belum lagi iuran yang didapat harus membayar honor pelatih. Jika telat bayar, anak-anak tidak bisa berlatih karena pemilik gedung tak memberikan izin," papar Sofyan.  

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya