Mobet, Masih Meliuk di Ibu Kota

Alat transportasi motor becak alias mobet tetap bertahan di sejumlah kawasan Ibu Kota sejak 1970-an. Seorang pengemudi mobet dapat mengantongi pendapatan Rp 20 ribu per hari.

oleh Liputan6Diterbitkan 20 April 2002, 01:44 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Di tengah perkembangan alat transportasi modern yang pesat di Jakarta, kendaraan motor becak hingga kini masih bertahan sejak hampir tiga dekade silam. Satu di antara daerah operasi motor becak atau lebih dikenal mobet adalah kawasan Poncol, Jakarta Pusat. Jangan salah kira. Meski termasuk alat angkut tua, mobet bisa membuat para sopirnya bisa bertahan hidup di Jakarta yang keras.

Diyo, misalnya. Pekerjaannya sebagai sopir mobet dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ayah dari empat anak usia sekolah ini, setiap hari dapat mengantongi sisa uang setoran Rp 20-30 ribu. Dia harus setor ke pemilik kendaraan Rp 10 ribu per hari. "Untuk daerah sekitar pemukiman, tarifnya hanya sekitar seribu sampai tiga ribu rupiah," ujar Diyo.

Meski kini banyak saingan alat transportasi lain, seperti ojek motor dan bajaj, Diyo yakin warga lebih menyukai mobet. Pasalnya, mobet lebih cepat dibanding becak. Selain itu, bagi pengemudinya, mengoperasikan mobet lebih mudah dan jelas tidak seberat menarik becak.

Pengemudi mobet lain, Odi namanya, mengutarakan bahwa ia kesulitan mencari suku cadang kendaraan beroda tiga ini jika mesinnya rusak. Menurut Odi, onderdil untuk mesin dua langkah ini tak diproduksi lagi. Untuk mengatasi hal ini, dia terpaksa mencari onderdil bekas yang mirip dengan suku cadang mobet.(ZAQ/Olivia Rosalia dan Agus Ginanjar)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya