Liputan6.com, Tokyo: Gempa 8,9 skala Richter disusul tsunami yang melanda kawasan pesisir Timur Laut Jepang berdampak sangat parah. Kota Rikuzentakata, Prefektur Iwate yang merupakan kota pelabuhan berpenduduk 20 ribu orang luluh lantak. Media setempat menghitung hampir tiga perempat kota hilang dihantam ombak setinggi delapan meter.
Diperkirakan banyak korban jiwa melayang dalam musibah itu. Hingga Senin (14/3), pencarian terhadap para korban, baik yang selamat atau tidak terus berlangsung.
Tak jauh beda kondisi di Iwanuma, Prefektur Miyagi. Permukiman warga tinggal puing. Kondisi menyulitkan warga mencari rumahnya sendiri. Sejumlah orang pun mencari-cari informasi untuk memastikan lokasi rumah mereka.
Tim penyelamat (SAR) dan relawan juga terus menyusuri dan membongkar puing. Mereka mencari korban yang mungkin masih bertahan hidup. Tapi sejauh ini hanya jenazah yang ditemukan. Hingga Senin siang laporan resmi menyebutkan 2.800 orang tewas. Jumlah ini termasuk seribu jenazah yang baru ditemukan, lebih dari 1.900 luka-luka dan 1.400 hilang [baca: Tim SAR Terus Lakukan Evakuasi Korban].(AIS)
Diperkirakan banyak korban jiwa melayang dalam musibah itu. Hingga Senin (14/3), pencarian terhadap para korban, baik yang selamat atau tidak terus berlangsung.
Tak jauh beda kondisi di Iwanuma, Prefektur Miyagi. Permukiman warga tinggal puing. Kondisi menyulitkan warga mencari rumahnya sendiri. Sejumlah orang pun mencari-cari informasi untuk memastikan lokasi rumah mereka.
Tim penyelamat (SAR) dan relawan juga terus menyusuri dan membongkar puing. Mereka mencari korban yang mungkin masih bertahan hidup. Tapi sejauh ini hanya jenazah yang ditemukan. Hingga Senin siang laporan resmi menyebutkan 2.800 orang tewas. Jumlah ini termasuk seribu jenazah yang baru ditemukan, lebih dari 1.900 luka-luka dan 1.400 hilang [baca: Tim SAR Terus Lakukan Evakuasi Korban].(AIS)