Rapor Alfred Riedl di Timnas Lebih Bagus Dibanding Luis Milla

Luis Milla terlihat belum bisa menciptakan stabilitas di timnas Indonesia. Padahal, itu hal yang bisa dilakukan cepat oleh Alfred Riedl.

oleh Ario YosiaDiterbitkan 21 November 2017, 10:05 WIB
Pelatih Indonesia, Luis Milla, saat pertandingan melawan Suriah U-23 di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Sabtu (18/11/2017). Indonesia kalah 0-1 dari Suriah U-23. (Bola.com/ M Iqbal Ichsan)

Jakarta Luis Milla didatangkan PSSI pada awal 2017 untuk mengerek kualitas permainan timnas Indonesia. Ini hal yang dinilai sulit dilakukan oleh pelatih sebelumnya, Alfred Riedl.

PSSI amat yakin Milla, yang sempat membawa timnas Spanyol U-21 juara Piala Eropa U-21 2011 silam lalu, di era kekinian lebih mumpuni dalam meramu area teknik dibanding Alfred yang sudah dimakan usia.

Nyatanya, hingga pengujung tahun Milla terlihat masih terseok-seok menukangi Tim Merah-Putih. Ia gagal mencapai target yang dibebankan PSSI di dua ajang internasional, yakni: Kualifikasi Piala AFC U-23 2018 dan SEA Games 2017.

Demikian pula di level timnas senior. Skor-skor uji coba internasional Tim Garuda jeblok sepanjang tahun ini.

Pujian kepada Milla baru sebatas gaya bermain yang menghibur. Berbeda dengan era Alfred Riedl, di mana Timnas Indonesia cenderung bermain defensif mengandalkan serangan balik.

Milla yang besar di sepak bola Spanyol, mengandalkan gaya bermain dengan mengedepankan skill individu. Aroma permainan tiki-taka ala Barcelona tersaji di tim asuhannya. Sayangnya, pesona permainan ofensif tak berbanding lurus dengan prestasi.

Di sisi lain, style bermain Alfred Riedl dinilai ketinggalan zaman. Saat Piala AFF 2016, ia memainkan skema tradisional 4-4-2, yang sudah jarang dipakai di persaingan sepak bola internasional. Pakem ini populer di negaranya, Austria. Alfred amat khatam benar dengan pola ini.

Tapi bicara hasil, rapor mantan pelatih Timnas Vietnam tersebut lebih baik dibanding penerusnya. Hanya menggeber persiapan kurang dari dua bulan, Timnas Indonesia yang absen di persaingan internasional gara-gara sanksi FIFA, menjelma menjadi kekuatan menakutkan di Piala AFF 2016.

Boaz Solossa dkk jadi kuda hitam mengejutkan dengan lolos ke final. Timnas Indonesia gagal menjadi juara setelah kalah dari Thailand. Walau tetap ada kebanggaan saat bermain di kandang Tim Merah-Putih mempecundangi sang raja sepak bola Asia Tenggara tersebut.

 


Pilihan Pragmatis

Bicara soal taktik permainan yang dikembangkannya, Alfred Riedl sempat berujar:

Lanjut Baca:

"Apa yang bisa saya lakukan dengan masa persiapan yang amat sebentar? Anda juga perlu tahu saya hanya bisa memilih dua pemain dari masing-masing klub karena mereka tak ingin terganggu di persaingan kompetisi. Ini yang bisa saya lakukan," ujar Alfred saat berbincang dengan Bola.com di sebuah hotel di Bogor jelang Piala AFF. Alfred sejatinya juga tidak benar-benar kaku dengan taktik permainannya. Saat Timnas Indonesia terancam gagal lolos dari fase penyisihan Piala AFF 2016, ia mau lentur merubah pola main dari 4-4-2 menjadi 4-2-3-1. Bicara soal ketidakleluasaan memilih pemain, Alfred bisa dibilang sukses menemukan komposisi tim yang solid. Ia bahkan bisa dibilang berani melakukan evolusi, dengan memasukkan nama-nama baru. Bayu Pradana, Manahati Lestusen, Hansamu Yama, Evan Dimas, pemain muda yang dapat porsi besar di skuat Timnas Indonesia Piala AFF 2016. Tak ada lagi pemain uzur macam Cristian Gonzales, Firman Utina, atau Supardi, yang hampir 10 tahun terakhir jadi pelanggan timnas. Bagaimana dengan Luis Milla? Berbeda dengan Alfred, ia lebih punya keleluasaan memilih pemain. PSSI sampai membuat regulasi mewajibkan setiap klub memainkan tiga pemain U-23 agar sang nakhoda bisa leluasa membentuk fondasi Timnas Indonesia U-22. "Sesi latihan yang dilakukan Luis Milla bermutu tinggi. Para pemain banyak disodori hal-hal baru. Hal ini belum ada sebelumnya," ujar Danurwindo, Direktur Teknik PSSI. Walau Milla juga dihadapkan situasi kurang mengenakkan dengan kegagalan PSSI menyajikan uji coba berkelas jelang SEA Games. Timnas Indonesia U-22 bahkan gagal menggeber pelatnas di Spanyol gara-gara pendanaan. Hasilnya, Timnas Indonesia U-22 harus puas menduduki posisi tiga besar, setelah kalah dari Thailand di fase semifinal. Ini terjadi usai SEA Games timnas masih dielu-elukan publik sepak bola Tanah Air.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya