Marak, Perkawinan Antarbangsa di Singkawang

Ribuan perempuan keturunan Tionghoa atau amoy di Singkawang, Kalbar, menikahi pria kaya asal Taiwan agar keluar dari kemiskinan. Tak sedikit di antaranya pulang membawa kekecewaan.

oleh Liputan6Diterbitkan 31 Maret 2002, 06:09 WIB
Liputan6.com, Singkawang: Kota Singkawang, Kalimantan Barat, terkenal dengan julukan "Kota Amoy". Maklum, sekitar 200 ribu atau 62 persen penduduknya keturunan etnis Tionghoa. Namun rata-rata mereka miskin karena hanya mengandalkan hidup sebagai buruh bangunan, petani, atau pedagang kecil. Tak heran bila sedikitnya 20 ribu perempuan muda Singkawang memilih menikah dengan orang Taiwan yang kaya dan berusia di atas 40 tahun. Demikian hasil pengamatan SCTV di Singkawang, baru-baru ini.

Fenomena itu terjadi karena sejak sepuluh tahun terakhir kebutuhan ekonomi dirasakan terus meningkat. Sayangnya, tak semua perempuan --mayoritas berusia 20 tahun-- yang menikahi pria Taiwan bernasib mujur. Sebagian di antara mereka memilih pulang karena dipaksa menjadi pembantu atau wanita penghibur. Tak sedikit pula yang kecewa karena pasangan hidupnya ternyata juga orang tak mampu.

Sebaliknya, bagi sebagian pria Taiwan yang tidak kaya, menikahi perempuan Singkawang adalah solusi untuk berhemat. Soalnya, biaya perkawinan di negaranya terhitung sangat tinggi. Namun, dia harus mau membiayai hidup sang mertua sekitar Rp 10 juta. Sebagian laki-laki mau menikah karena perempuan amoy memiliki kelebihan ketimbang wanita Taiwan: "tahan banting" dan rajin bekerja.

Pasangan tersebut, biasanya dipertemukan lewat calo atau mak comblang yang selalu "berkeliaran" ke pelosok desa. Jadi tak sulit mencari pasangan di "Kota Hongkong"-nya Indonesia itu.

Hikayat, nama Singkawang berasal dari bahasa China San Kew Jong. Artinya, kota di kaki gunung yang berdekatan dengan muara dan laut. Kota ini dikelilingi Gunung Pasi, Sakok, Poteng dan Laut Natuna. Kota ini terkenal akan kerajinan keramik naganya. Sebelum memiliki pemerintahan kota sendiri, Singkawang tergabung dengan wilayah administratif Kabupaten Bengkayang. Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno baru meresmikan Singkawang menjadi Pemkot pada 17 Oktober 2001. Penduduk di Kota Seribu Kuil itu sudah terbiasa berasimilasi dengan pendatang. Oleh sebab itu, tingkat perkawinan antarbangsa juga terbilang cukup tinggi.(KEN/Amin Alkadrie)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya