Awet Muda dengan Terapi Hormon Pertumbuhan

Pemberian hormon pertumbuhan terbukti menjadikan jaringan kulit dan tulang 10 tahun lebih muda. Namun, pemberian hormon pertumbuhan sintetis ini tidak boleh dilakukan pada wanita hamil.

oleh Liputan6Diterbitkan 30 Maret 2002, 18:48 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Selain berumur panjang, manusia ingin tetap tampil menarik hingga di usia senja. Upaya untuk tetap terlihat menarik di antaranya dengan cara menjaga tubuh awet muda. Namun, usaha menjaga kemudaan ini tidak hanya berkaitan dengan kulit dan wajah untuk tetap segar, melainkan juga tubuh yang sehat dan enerjetik. Kini, berbagai pilihan terapi tersedia, antara lain melalui terapi hormon pertumbuhan.

Menurut dokter Edwin Djuanda, ahli kecantikan kulit Jakarta Skin Centre, baru-baru ini, di Jakarta mengatakan, hormon pertumbuhan dihasilkan hipofise otak. Fungsi utama hormon ini adalah membantu tumbuh kembang anak hingga selesai usia pertumbuhan pada usia sekitar 20 tahun. Sementara fungsi lainnya adalah menjaga mekanisme tubuh agar tetap muda seperti pergantian kulit yang tua dengan yang muda, kesehatan tulang, dan aktivitas otot.

Namun, setelah usia 25 tahun, Edwin mengungkapkan, jumlah hormon pertumbuhan rata-rata berkurang 14 persen dari jumlah semula setiap 10 tahun. Dengan demikian di sekitar usia 60 tahun, produksi hormon ini menjadi sedikit. Dalam dunia medis mempertahankan hormon tersebut sangat penting untuk antiaging atau antipenuaan alias awet muda. Dalam penelitian yang dilakukan dokter Daniel Krutzman asal Jerman terhadap pasiennya yang berusia 60-80 tahun pada 1990, terbukti jaringan kulit dan tulang menjadi 10 tahun lebih muda dengan pemberian hormon pertumbuhan.

Edwin menjelaskan, konsep awet muda bukan saja mempertahankan penampilan dari luar, tapi juga meminimalkan ketidaknyamanan yang biasa timbul pada orang tua. Kalangan usia lanjut sering mengeluhkan munculnya berbagai masalah saat menopause pada perempuan atau andropause pada pria. Keluhan tersebut antara lain, pikun, rasa nyeri sekujur tubuh, dan hot flushes atau panas pada wajah.

Edwin menambahkan, penyebab keluhan tersebut adalah penurunan produksi hormon seks yang berupa testrogen pada perempuan dan testosteron pada pria. Beberapa tahun silam, penggunaan hormon pengganti hormon seks tersebut sempat populer. Namun, belakangan diketahui bahwa hormon pertumbuhan ternyata juga mampu meningkatkan produksi hormon yang dibutuhkan itu secara alami.

Lebih jauh, Edwin mengatakan, dosis pemberian hormon ini harus dipertimbangkan secara cermat. Untuk pemberian dengan kadar tinggi, pasien sebaiknya diperiksa kadar IGF atau Insulin Like Growth Factor. Yaitu produk hormon pertumbuhan dalam tubuh yang kadarnya lebih stabil. Jika dosis pemberiannya tidak tepat, ahli kecantikan ini mengatakan, bakal menimbulkan efek samping negatif.

Dokter Edwin menyarankan, pemberian hormon pertumbuhan ini dilakukan setiap 2-3 minggu sekali. Menurut dia, manfaat terapi ini masih akan bertahan dalam dua bulan ke depan. Artinya, pemberian hormon pertumbuhan tersebut masih bisa dirasakan manfaatnya meski pengguna tidak menggunakannya selama satu bulan.

Namun, tidak semua orang lanjut usia yang merasakan perlu menggunakan hormon ini. Pasalnya, banyak dari mereka menganggap keluhan di usia tua sebagai hal wajar yang harus dirasakan. Selain itu, tidak semua lansia beruntung bisa menjangkau biaya suntikan hormon pertumbuhan ini lantaran harganya memang relatif mahal.

Meski menganjurkan terapi ini, Edwin memperingatkan, pemberian hormon pertumbuhan sintetis ini tidak boleh dilakukan pada wanita hamil. Selain itu, pasien pengidap penyakit yang pertumbuhannya terkait dengan hormon seperti kanker prostat, payudara, dan kanker rahim juga tidak boleh menjalaninya.(ZAQ/Bambang Triono dan Mira Permatasari)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya