Dendam Diabaikan Keluarga, Keponakan Jadi Korban

Said Mubarak alias Ayat nekat membunuh keponakannya, Aldi, karena dendam kepada keluarga. Dikucilkan dari lingkungan keluarga membuat Ayat stres berat.

oleh Liputan6Diterbitkan 24 Maret 2002, 14:00 WIB
Liputan6.com, Langkat: Pertengahan Februari silam, masyarakat Desa Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, dikejutkan sebuah pembunuhan sadis. Seorang bocah berumur delapan tahun bernama Muhamad Rialdi, ditemukan tewas mengenaskan dengan kepala nyaris putus di rumahnya sendiri. Si pembunuh, ternyata paman kandung korban bernama Said Mubarak alias Ayat. Ia nekat membunuh keponakannya untuk membalas dendam kepada Chairunnisa, ibu kandung korban.

Kejadian tadi berawal saat Aldi --biasa Mohammad Rialdi disapa-- bersama sahabatnya Riski, baru pulang dari sekolah. Di tengah jalan, Aldi mengajak Riski membeli ikan hias di Pasar Tanjung Pura. Kedua murid Sekolah Dasar Negeri 03 Tanjung Pura itu kemudian pulang ke rumah Salmah, nenek Aldi, di Jalan Udang Nomor 8. Sejak usia empat bulan, Aldi memang tinggal bersama neneknya. Sebab sang ibu, Chairunnisa, sudah bercerai dengan Surya Perdana Ginting. Sekarang ini, Surya bermukim di Medan. Dalam perjalanan menuju rumah, sekelebat Riski sempat melihat motor milik Ayat yang diparkir di halaman belakang.

Rekan korban ini hanya sebentar di dalam rumah. Pasalnya, Salmah menyuruh Riski pulang karena Aldi akan makan siang. Seakan enggan, sebelum pulang, Riski melalui jendela masih mengintip Aldi makan, sementara Salmah berangkat ke pasar. Saat itu pula Riski sempat melihat Ayat masuk ke rumah sambil membawa pisau. Riski penasaran dan mengintip gerak-gerik Ayat dari jendela tadi.

Saat itu pula, bocah dengan logat Melayu kental ini menjadi saksi pembunuhan. Maklum, sambil masih mengintip sekaligus terhenyak, Riski melihat dengan jelas saat Ayat tiba-tiba menusukkan pisau ke dada Aldi. "Pisau yang dipakai Pak Cik bengkok, ia membawa pisau besar dan memotong leher Aldi," kata Riski. Bocah itu tak berani bergerak lantaran amat sangat ketakutan.

Beberapa saat kemudian, bibi korban, Nurunissa yang masuk ke ruang makan berteriak melihat Aldi berlumuran darah. Warga berbondong-bondong datang mendengar teriakan perempuan tadi. Awalnya mereka menduga telah terjadi perampokan. Namun sesaat berikutnya, warga terperanjat kaget. Ayat yang masih berdiri di samping mayat Aldi mengaku telah membunuh keponakannya sendiri.

Polisi tiba di lokasi kejadian tak lama setelah mendapat laporan dari warga. Ayat pun digiring ke Markas Kepolisian Sektor Tanjung Pura tanpa perlawanan. Menurut Kepala Polsek Tanjung Pura Inspektur Polisi Aldri Peristiwa, tersangka sama sekali tak menunjukkan ekspresi menyesal. "Ia malah mengaku puas berhasil membalas dendam," kata Aldri. Pisau yang digunakan buat menghabisi nyawa Aldi ditemukan di dalam mesin cuci.

Aldri menjelaskan, tersangka adalah anak kedua pasangan Said Sabir Husain dan Salmah. Lantaran menganggur, Ayat memilih kos di Medan ketimbang tinggal bersama adiknya, Nurunnisa. Sementara Ica --panggilan akrab Chairunnisa, setelah cerai menikah kembali dengan Zulkarnain dan tinggal di Medan. Ayat mengaku hanya ingin melampiaskan rasa kecewa karena terus dikucilkan dari keluarga. "Saya tidak berniat membunuh Aldi, karena saya sayang kepadanya," kata Ayat. Namun, dia mengaku tak punya cara lain untuk membalas dendam yang membara.

Kebencian Ayat terhadap keluarga memang diakui Ica. Bahkan, ia pernah menerima surat dari Ayat yang bernada ancaman pada November silam. Surat itu berbunyi: "Ingat Ca! Kita belum selesai. Aku mesti dan pasti membalas perbuatan-perbuatan kau di masa yang lampau, tetapi bukan fisik kau akan tetapi mental, jiwa, dan batin kau."

Ica dan Said hanya bisa menyesali kenekatan Ayat. Sedangkan Surya yang baru mendengar kabar kematian Aldi pada malam kejadian hanya terpekur. Ia meminta Aldi segera dimakamkan di Medan. Surya juga tak menyangka Ayat berani membunuh anaknya. Selama ini, ia mengaku memang kurang mengenal Ayat secara dekat. Apalagi, mahligai perkawinan mereka tak berlangsung lama. Surya hanya berharap Ayat dijatuhi hukuman setimpal.

Menurut ahli kejiwaan Syaiful Anwar, Ayat mengalami depresi karena rasa kecewa yang sangat besar akibat diperlakukan tak adil. Padahal, setiap anggota keluarga seharusnya mendapat perlakuan sama, satu sama lain. "Ayat merasa tak dihargai keluarga," kata Syaiful. Karena itu, lelaki separuh baya tadi nekat membunuh orang yang paling disayangi, sebagai sarana pelampiasan. Sebenarnya kejadian itu tak akan terjadi jika keluarga Ayat membuka diri dan mau berkomunikasi. "Dengan berkomunikasi, Ayat bisa menyampaikan keluh kesah yang menderanya," tambah Syaiful.

Tapi, apa daya nasi sudah menjadi bubur. Menurut Kepala Satuan Reserse Polres Langkat Ajun Komisaris Polisi Simanjuntak, Ayat akan dijerat Pasal 340 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana tentang Pembunuhan Berencana. "Dia terancam hukuman penjara seumur hidup," kata Simanjuntak. Menyoal dugaan tersangka mengidap sakit jiwa, polisi masih akan menindaklanjuti kemungkinan tersebut dengan sejumlah pemeriksaan kesehatan.(KEN/Tim Derap Hukum)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya