HEADLINE: Juara SEA Games 2017 di Malaysia, Cuma Mimpi?

Banyak kebijakan tuan rumah yang merugikan Indonesia. Potensi perolehan 27 medali emas dipotong. Emas sepak bola bisa kembali direbut?

oleh Edu KrisnadefaDiterbitkan 19 Agustus 2017, 00:05 WIB
Pemanah putri Indonesia di SEA Games, Dellie Threesyadinda (kiri) dan Sri Ranti. Sri Ranti berhasil mempersembahkan medali emas pertama Indonesia di SEA Games 2017. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Liputan6.com, Jakarta - Gong perhelatan olahraga akbar muticabang se-Asia Tenggara, SEA Games 2017 ditabuh, Sabtu (19/8/2017). Di Stadion Nasional Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, ajang dua tahunan ini akan resmi dibuka Raja Malaysia, Yang Dipertuan Agong Sultan Muhammad V, melalui sebuah opening ceremony yang dijanjikan berlangsung spektakuler.

Sebelum dibuka, sejak 14 Agustus lalu sudah ada beberapa cabang olahraga yang dipertandingkan. Panahan bahkan sudah membagikan medali sejak tiga hari lalu.

Total, akan ada sekitar 8 ribu atlet dan ofisial dari 11 negara yang berpartipasi di ajang yang awalnya bernama South East Asian Peninsula Games ini. Jumlah medali yang diperebutkan pun luar biasa banyak: 405 emas, 405 perak, dan 529 perunggu, dari total 38 cabang.

Kontingen Indonesia sendiri berkekuatan 533 atlet, ditambah 170 pelatih, 55 ofisial, dan 122 peserta mandiri. Tim Merah Putih datang ke Kuala Lumpur dipimpin Chief de Mission Aziz Syamsudin.

Yang dibidik kali ini bukan gelar juara umum. Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima), lembaga yang paling bertanggung jawab atas prestasi olahraga Indonesia, hanya menargetkan total 55 medali emas. Dengan perolehan ini, Indonesia diproyeksikan bisa menduduki urutan keempat, lebih baik daripada prestasi di SEA Games 2015 Singapura, sebagai posisi kelima.

“Jumlah itu lebih banyak dari perolehan dua tahun sebelumnya, 47 medali emas," kata Aziz.

Target dari Komite Olimpiade Indonesia (KOI) pun setali tiga uang. Saat pengukuhan Kontingen Indonesia di Wisma Kemenpora, Jakarta, awal Agustus lalu, anggota Komite Eksekutif KOI Helen Delima mengatakan target yang mereka bebankan hanya agar posisi Indonesia lebih baik daripada SEA Games Singapura. Hanya saja, KOI meminta Kontingen Garuda bisa membawa pulang 61 emas.

Semua pihak terkesan tak berani mematok target sebagai juara umum. Padahal, rakyat Indonesia terus memimpikan itu.

Mimpi itu tak kurang disuarakan Presiden Joko Widodo. "Kita sebagai negara besar mestinya targetnya seperti itu. Sudah berapa kali kita juara umum? Kalau jadi 11 kali kan jauh lebih baik," demikian tantang Presiden, saat melepas Kontingan Indonesia di Halaman Istana Merdeka, Jakarta, Senin (7/8/2017).

Lanjut Baca:

Indonesia memang pernah punya tradisi bagus di ajang [SEA Games](3062151 ""). Setidaknya, Indonesia masih tercatat sebagai negara yang paling banyak menyabet gelar juara umum SEA Games, yakni 10 kali. Capaian ini jauh meninggalkan rival utama Thailand, yang baru tujuh kali. Terakhir, Indonesia jadi juara umum SEA Games pada tahun 2011. Ketika itu, ajang ini digelar di Indonesia, Jakarta dan Palembang. Ketua Satlak Prima, Achmad Sutjipto, menjelaskan target empat besar dan memperbaiki torehan emas dari SEA Games sebelumnya adalah yang paling realistis. Sebab, selain faktor teknis, sisi non teknis juga sangat menentukan. Ini karena negara tuan rumah memiliki hak untuk menentukan cabang-cabang potensial bagi perolehan medali mereka. Mereka bahkan berhak meniadakan cabang yang jadi unggulan negara rival. Untuk SEA Games tahun ini, misalnya, banyak kebijakan tuan rumah Malaysia yang sangat merugikan kontingen Indonesia. "Potensi perolehan 27 medali kita dipotong tuan rumah. Sebut saja mendayung, kano, balap sepeda, tinju, angkat besi; total ada 10 cabang," Sutjipto menerangkan kepada Liputan6.com. Selain itu, secara teknis, persiapan Indonesia menuju [SEA Games](3062136 "") 2017 juga tak bisa dibilang maksimal. Selain soal pemusatan latihan, peralatan dan tempat latihan yang tak memenuhi standar juga jadi masalah besar. Belum lagi masalah dana. Hal ini pernah dialami tim tinju, yang sempat berlatih selama tujuh bulan tanpa sokongan dana pemerintah. Padahal, dana sangat dibutuhkan untuk operasional latihan sehari-hari, terutama untuk logistik atlet. “Latihan keras harus juga ditunjang dengan gizi yang cukup. Kalau tidak, semuanya nonsens," ujar Shelly Selowati HS Miranda, Sekjen PP Pertina.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya