Najwa Shihab dan Kisah Pilu Tsunami Aceh

Berkarier selama 17 tahun di ranah media, memberikan banyak kenangan dan pengalaman bagi Najwa Shihab.

oleh Muhammad Ali diperbarui 09 Agu 2017, 08:14 WIB
Najwa Shihab (Wimbarsana/Bintang.com)

Liputan6.com, Jakarta - Presenter kondang Najwa Shibab resmi mengundurkan diri dari stasiun televisi nasional, Metro TV. Keputusan itu disampaikan Najwa dalam akun instagram pribadinya, @najwashihab, Selasa 8 Agustus 2017.

"Menjadi reporter Metro TV pada bulan Agustus 2000, perjalanan saya bersama Metro TV juga akan berakhir pada bulan yang sama. Ini adalah Agustus penghabisan," tulis Najwa Shihab.

Berkarier selama 17 tahun di ranah media, memberikan banyak kenangan dan pengalaman bagi putri Quraish Shihab ini. Beragam kondisi telah ia lalui saat bertugas untuk memberikan informasi teraktual kepada pemirsa di seluruh Indonesia.

Salah satu tugas yang mengesankan Najwa yaitu kala meliput gempa Aceh. Pada Minggu, 26 Desember 2004, Aceh dan Nias dilanda gempa dahsyat. Saat itu, Najwa menjadi asisten produser di Today’s Dialogue. Kejadian itu direncanakan akan menjadi tema perbincangan pada acara tersebut. Namun, ia berpikir akan lebih mengena jika ada yang pergi ke lapangan.

Najwa pun bergerak cepat. Dia mengontak beberapa teman, mencari tahu pesawat yang bisa ditumpangi karena penerbangan komersial dihentikan. Akhirnya, ia mendengar Jusuf Kalla, Wakil Presiden saat itu, akan berangkat ke Aceh pada Senin pagi, 27 Desember. Ia pun menelepon sekretaris JK. Tim Metro TV bisa ikut rombongan.

Dengan membawa pakaian ganti untuk dua atau tiga hari, Najwa bersama juru kamera ikut dalam penerbangan pesawat JK. Saat itu, belum terdengar kabar soal tsunami karena semua komunikasi putus. Mereka menyangka hanya akan menghadapi dampak gempa biasa.

Keanehan baru terasa saat pesawat tidak mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Mereka diarahkan ke sebuah lapangan terbang militer. Saat mendarat, JK tak dijemput dengan sedan mewah, melainkan oleh sebuah truk tua.

Dalam perjalanan menuju pusat kota, ia akhirnya melihat betapa hancurnya Banda Aceh. Lapangan Blang Padang, alun-alun Banda Aceh, sudah seperti pasar yang becek, jorok, dan bau. Bukan oleh tumpukan sampah, melainkan timbunan mayat manusia. Di Minggu pagi itu sedang berlangsung lomba marathon. Ada ribuan orang berkumpul. Mereka semua disapu air tsunami.

"Melihat ke atas, saya melihat ada jenazah tersangkut di pohon," kata Najwa seperti dikutip dari buku Jurnalis Berkisah.

Yang menambah shock, dia melihat orang yang begitu putus asa. Kala itu Najwa bertemu seorang pria dengan tatapan mata yang kosong. Ia kehilangan anaknya.

Pada hari pertama bertugas, Najwa melaporkan kondisi Aceh yang hancur melalui sambungan telepon. Ini lantaran semua infrastruktur hancur, termasuk telekomunikasi. Laporan langsung lewat satelit baru bisa dilakukannya pada hari kedua.

Total lima hari Najwa di sana. Tinggal di kompleks gubernuran yang selamat dari terjangan tsunami. Dia menyaksikan masyarakat yang bingung harus kemana mengadu. Mereka hanya melihat para kru televisi, termasuk Metro TV.

Untuk sesaat, para jurnalis itu menjadi semacam alternatif. Ada seorang ibu yang menitipkan foto anaknya yang hilang ke Najwa. Ada juga seorang ibu yang meminta susu untuk bayinya.

"Memang kalau hari pertama atau kedua, wajar belum ada posko. Tapi, jika hari kelima dan keenam belum ada posko, keterlaluan. Laporan saya agak keras soal ini," ketus Najwa.

Tak urung, laporan Najwa juga menyentil kinerja sang paman, Alwi Shihab, yang saat itu menjabat Menko Kesra. Selain keras, juga emosianal. Dalam sebuah kesempatan, Najwa menangis saat melaporkan situasi.

Pada hari terakhir 2004, JK pulang ke Jakarta. Najwa kembali ikut. Di pesawat, politikus Partai Golkar Aburizal Bakrie berkata, "Tuh, gara-gara kamu menangis saat laporan, Pak Alwi harus ke sana." Seminggu setelah bencana, Alwi akhirnya berangkat ke Aceh dan berkantor di sana untuk beberapa lama.

Liputan Najwa selama lima hari itu mendapatkan apresiasi dari sejumlah pihak. Pada 2 Februari 2005, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya memberi penghargaan PWI Jaya Award. Menurut Sekretaris PWI Jaya Akhmad Kusaeni, liputan Najwa telah membuat Indonesia menangis.

Lalu, pada Hari Pers Nasional (HPN) 2005, Najwa meraih penghargaan HPN Award. PWI pusat menilai, perempuan kelahiran 16 September 1977 ini adalah wartawan pertama yang memberi informasi tragedi tsunami secara intensif.

Saksikan Video Menarik Berikut Ini:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya