Liputan6.com, Jakarta: Fandy Christian tak mau hidup terpuruk dengan keterbatasan yang ia miliki. Aktor muda ini ingin mencapai puncak kesuksesan seperti orang lainnya. Sayangnya, ambisi tersebut yang akhirnya membuat ia gelap mata lalu menggadaikan hal paling berharga, identitas diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Pun Metta Permadi yang merasa "cukup" dengan pekerjaannya sebagai gadis penjual tahu di Singkawang, Kalimantan Barat. "Saya gadis yang nggak punya motivasi untuk menjadi orang kaya," tuturnya dalam tayangan Status Selebritis SCTV, Sabtu (23/10).
Fandy yang berperan sebagai Aseng dan Metta yang memainkan karakter Ping Ping beradu akting dalam Sinema 20 Wajah Indonesia berjudul Bakpau Ping Ping. Kisah tentang kehidupan dan perjuangan warga Indonesia keturunan Tionghoa mendapat pengakuan.
Bagi dua anak muda yang kebetulan memiliki wajah oriental ini, film yang mereka mainkan amat menyentuh. Fandy menggambarkannya, sebagai ungkapan isi hati para warga keturunan yang selama ini didiskriminasikan.
"Bapak sadar nggak kalau mata kita sipit?" pertanyaan yang selalu muncul. Pertanyaan ini pula yang diharapkan bisa membuka wawasan penonton.(ANS)
Pun Metta Permadi yang merasa "cukup" dengan pekerjaannya sebagai gadis penjual tahu di Singkawang, Kalimantan Barat. "Saya gadis yang nggak punya motivasi untuk menjadi orang kaya," tuturnya dalam tayangan Status Selebritis SCTV, Sabtu (23/10).
Fandy yang berperan sebagai Aseng dan Metta yang memainkan karakter Ping Ping beradu akting dalam Sinema 20 Wajah Indonesia berjudul Bakpau Ping Ping. Kisah tentang kehidupan dan perjuangan warga Indonesia keturunan Tionghoa mendapat pengakuan.
Bagi dua anak muda yang kebetulan memiliki wajah oriental ini, film yang mereka mainkan amat menyentuh. Fandy menggambarkannya, sebagai ungkapan isi hati para warga keturunan yang selama ini didiskriminasikan.
"Bapak sadar nggak kalau mata kita sipit?" pertanyaan yang selalu muncul. Pertanyaan ini pula yang diharapkan bisa membuka wawasan penonton.(ANS)