Liputan6.com, Manchester - Manchester City dalam satu dekade terakhir menjadi klub yang disegani di Liga Inggris. Namun, dalam perjalanannya, Manchester City dihinggapi beberapa mitos buruk, yang harus segera digagalkan atau dipatahkan.
The Citizens bak dua sisi mata uang di Kota Manchester sejak diambil alih pengusaha Timur Tengah pada 2008. Sebagian tidak senang, sebagian lagi merasa kedatangan investor dari Timur Tengah membawa kemajuan bagi Kota Manchester.
Tidak sedikit anggapan yang mengatakan jika The Citizens berperan besar dalam merusak sepak bola lewat kekuatan keuangannya. Namun sebenarnya, mereka masih kalah dengan tiga tim lain dalam hal pembelian termahal sepanjang sejarah.
Pasukan Pep Guardiola ini baru dua kali melakukan pembelian paling mahal, lebih sedikit ketimbang Real Madrid, Barcelona, dan Paris Saint-Germain. Bahkan, baru-baru ini Manchester United juga baru saja memecahkan rekor transfer. Mitos itu harus segera dipatahkan oleh The Citizens.
Nah, ada lima mitos lain yang harus diputus oleh Manchester City. Apa saja? Berikut daftarnya dikutip dari Sportskeeda:
Advertisement
Cabutnya Sheikh Mansour
1. Cabutnya Sheikh Mansour
Aneh memang kalau mengharapkan pengusaha Timur Tengah ini cabut dari City dalam waktu dekat. Mengapa? Ini sangat sederhana.
Sejak 2013, City telah membalikkan kerugian yang sempat melumpuhkan klub dengan keputusan Financial Fair Play UEFA. Bahkan, mereka mencatatkan pendapatan meningkat setiap musimnya
Bahkan, hanya empat klub lain di seluruh dunia yang menghasilkan lebih banyak pendapatan dibanding Manchester City tahun lalu, yakni Real Madrid, Barcelona, Manchester United, dan Bayern Muenchen.
Entah itu bersumber dari jersey, penjualan tiket, hak televisi, sponsorship, atau penjualan pemain. City telah menjadi perusahaan mandiri dengan tingkat keuntungan yang diharapkan akan diumumkan musim ini. Sulit untuk melihat bagaimana City akan berjuang jika Mansour pergi.
Tidak Memiliki Pendukung
2. Tidak Memiliki Pendukung
Berlawanan dengan kepercayaan populer, Manchester City sebenarnya memiliki fans yang mayoritas telah mendukung klub selama bertahun-tahun. Tidak banyak yang menyangkal bahwa kesuksesan membawa penggemar semakin banyak.
Sebagai contoh, di bawah Manuel Pellegrini pada tahun 2014, City memenangkan Liga Inggris di depan rata-rata 47.075 penggemar. Bila Anda membandingkan kesuksesan musim itu dengan musim pertama 2003/04, jelas berbeda. City berjuang untuk tak degradasi dan finis di urutan ke-16 di depan fans rata-rata 46.834.
Anda tidak perlu menjadi ilmuan untuk menyadari bahwa ada peningkatan sekitar 241 pendukung. Ketika City berada di League One pada tahun 1998/1999, mereka memiliki rata-rata kehadiran 32.547, rekor yang tetap tak tersentuh.