Latah, Penyakit Kejiwaan yang <i>Ngetren</i>

Latah adalah penyakit gangguan kejiwaan yang banyak ditemukan di masyarakat Indonesia. Sebagian kalangan menganggap kebiasaan ini sebagai perilaku yang sedang tren.

oleh Liputan6Diterbitkan 17 Februari 2002, 12:14 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Perilaku latah kerap dijumpai pada masyarakat Indonesia. Bahkan, kini ada yang menyebutnya bagian dari tren perilaku. Dalam ilmu kedokteran, latah didefinisikan sebagai keadaan hipersensitivitas terhadap suatu rangsangan mendadak, sehingga menimbulkan keterkejutan. Bentuk reaksinya bisa berupa verbal atau gerakan tubuh. Demikian penjelasan ahli jiwa Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Jakarta Timur, Laurentius Panggabean, baru-baru ini.

Menurut Laurentius, hingga kini penyebab latah masih belum diketahui secara pasti. Namun, beberapa penelitian medis menyimpulkan latah umumnya timbul pada perempuan dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi rendah. Sebagian besar wanita penderita penyakit ini juga pernah bermimpi menemukan banyak alat kelamin pria. Itulah sebabnya, muncul dugaan bahwa latah berkaitan dengan ketidakpuasan seksual atau penekanan keinginan berahi seseorang. Penekanan hasrat seksual ini dapat terjadi akibat norma-norma masyarakat yang menganggap tabu hubungan seks.

Jika laki-laki yang bermimpi, besar dugaan berhubungan erat dengan kecemasan terhadap hasrat homoseksual. Lantaran takut tak akan diterima lingkungannya, dia memilih untuk menekan atau merepresi hasrat penyimpangan itu. Laurentius menambahkan, sejauh ini, penderita latah belum pernah tercatat ada yang berobat ke dokter. Padahal, penyakit gangguan kejiwaan ini bisa menetap seumur hidup jika individu yang bersangkutan tak berusaha menghentikannya.

Namun demikan, Laurentius mengatakan, ini bukan berarti penderita tidak merasa terganggu. Mala dan Nani, penderita latah merasa sangat terganggu, malu, dan sering kelelahan atas reaksi mereka terhadap rangsangan yang mengagetkan. Untuk mengobatinya, mereka pernah berulang kali ke dukun. Sayangnya, hasilnya tetap nihil. Mereka juga mengaku belum belum pernah meminta pertolongan dokter ahli.

Tapi, latah pada "orang kecil," berbeda dengan kalangan atas. Artis, misalnya. Latah tak selalu didahului mimpi. Ada kecenderungan mereka melakukan itu karena meniru dan puas menjadi pusat perhatian orang lingkungannya. Latah pada kelompok ini juga timbul akibat pembiasaan cara mereka mengatasi kecemasan atau gangguan penyesuaian. Untuk menyembuhkan penyakit ini, Laurentius menekankan pentingnya pengertian lingkungan sekitarnya. Misalnya, tidak memprovokasi dan menjadikan mereka bahan lelucon. Sedangkan bagi si penderita, Laurentius menyarankan menghentikan kebiasaan latah dengan tekad yang kuat.(ZAQ/Bambang Triono dan Mira Permatasari)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya