Djarot Bangun Sekolah Agama Khusus Toleransi

Calon wakil gubernur petahana DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, menghadiri pengajian bulanan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU)

oleh Liputan6Diterbitkan 10 April 2017, 11:51 WIB
Ingin Menjaga Kebhinekaan, Djarot Bangun Sekolah Agama Khusus Toleransi

Liputan6.com, Jakarta Calon wakil gubernur petahana DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, menghadiri pengajian bulanan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU). Acara pengajian sekaligus silahturahmi tersebut juga dihadiri Ketua PWNU DKI Jakarta, Saefullah dan Ketua Umum PPP Djan Faridz.  

Dalam kesempatan bersilaturahmi itu, Djarot mengatakan dirinya siap untuk mendukung pembangunan kantor PWNU 4 lantai. Dia meminta Saefullah yang juga Sekda DKI itu tidak sungkan dan dapat memisahkan perihal tugasnya sebagai Sekda DKI dan tugasnya di PWNU.

“Kantornya mau dibangun jadi 4 lantai. Tentu saya mendukung penuh. Kantor ini sudah miliknya NU, mereka gotong royong. Kalau masalah anggaran nggak masalah, saya sudah sampaikan sama pengurus nggak usah sungkan minta anggaran kalau tujuannya baik dan jelas pasti kita dukung. Dan Pak Sekda harus bisa memisahkan sebagai ketua maupun sekda, jangan sungkan meminta anggaran, kadang (sekda) terlalu sungkan nggak enak hati,” kata Djarot di Kantor PWNU DKI, Jakarta Timur.

Selain berbicara mengenai pembangunan kantor PWNU, Djarot juga menyampaikan rencananya untuk membangun NU Mart dan sekolah bina damai. Sekolah nina damai yang dimaksud tersebut, nantinya, kata Djarot, akan mengedepankan toleransi antar umat beragama di Indonesia.

Seperti diketahui, dalam persaingan Pilkada DKI Jakarta 2017, kerap ditemui berbagai isu SARA. Berbagai isu tersebut mencuat, dan dijadikan alat untuk menyudutkan serta menyerang salah satu calon gubernur DKI Jakarta.

“Saya wakil gubernur sebentar lagi akan aktif lagi, satu program yang kita kerjakan adalah menggelar sekolah agama bina damai, untuk saling mengenal Islam kayak apa Kristen, Budha Hindu, karena ini karunia karena Indonesia tercipta plural,” tegas Djarot.

Pengamat Militer dan Intelejen yang juga mantan anggota DPR FRAKSI HANURA, Nuning, dalam sebuah diskusi yang bertemakan ‘Menelaah Potensi Radikalisme Di Pilkada DKI Jakarta’, mengungkapkan, Ketimpangan
sosial, budaya, dan ekonomi yang menjadi penyebab munculnya radikalisme di Indonesia.

“Sangatlah malu ketika kejadian ini dilihat oleh orang di luar negeri. Khususnya melihat pilkada DKI yang persaingannya sudah di luar dari koridor demokrasi,” ujar Nuning.

Djarot juga menyampaikan apresiasinya pada NU yang dianggapnya konsisten menjaga NKRI dari radikalisme.

“Yang betul garis depan mempertahankan NKRI adalah NU, karena islam rahmatan lil alamin tentu saja yg dikembangkan di Jakarta berbeda dengan yang du diblitar karena menyesuaikan keadaan sekitar,” ucap Djarot.

(*)

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya