Liputan6.com, Lebak: Tidak mudah bagi bidan Ros Rosita untuk meyakinkan masyarakat Suku Baduy di Lebak, Banten. Maklumlah, sudah lama masyarakat suku ini memegang erat adat dan seperti tidak tersentuh modernisasi. Namun, dengan ketekunan dan keyakinan, Rosita akhirnya bisa mengabdi di tengah masyarakat Baduy [baca: Bidan Baduy]
Ketika ditemui baru-baru ini, Rosita mengaku sudah 13 tahun bertugas dan mengabdi untuk masyarakat Baduy. Wanita dari Desa Ciboleger, Lebak, yang baru menyelesaikan program diploma satu kebidanan (1997) terus memberi pemahaman kepada masyarakat Desa Kanekes tentang pentingnya kesehatan.
Sehari-hari tugas Bidan Rosita tidaklah ringan. Bahkan, di tahun pertama, Rosita sempat ditolak masyarakat Baduy karena dianggap merusak kehidupan adat. "Pelan-pelan saya dekati tokoh adat di sana. Biar bisa masuk," kata Rosita.
Lambat laun, masyarakat mulai menerima kehadiran Rosita. Masyarakat yang dulu membenci dan menjauhi, kini berbalik mulai mengikuti yang diajarkan Rosita. Bahkan, pelayanan kesehatan yang diberikan Rosita, seperti pengobatan dan persalinan, makin diminati warga. "Sekarang sudah ramai. Saya tidak merasa sendiri lagi," ujar Rosita.
Mulanya, ibu dua anak ini hanya memberikan penyuluhan soal kesehatan. Untuk itu, Rosita tidak pernah memikirkan bayaran. Dia menerima apapun yang diberikan warga Baduy. Tidak jarang, Rosita harus dibayar dengan hasil bumi. Namun, semuanya itu diterima dengan ikhlas.
Di tengah perjalanan, sering juga Rosita mendapat fitnah. Namun, Rosita tidak menyerah. Dia terus memberi penyuluhan hingga belakangan terbukti, angka kematian bayi di Baduy menurun.
Saat ini, perempuan berusia 38 tahun ini juga membina sejumlah warga Baduy menjadi kader posyandu. Dengan begitu, mereka bisa membantu Rosita sehari-hari saat memberi penyuluhan di tengah masyarakat. "Tadinya saya belum bisa baca. Tapi sekarang sudah lancar menulis," kata Ambu Alis, warga yang kini membantu Rosita.
Rosita berharap bisa terus memberi penyuluhan kesehatan kepada warga Baduy. Selama ini dia merasa senang bisa melakukan itu, terlebih keluarganya sangat mendukung.(ULF)
Ketika ditemui baru-baru ini, Rosita mengaku sudah 13 tahun bertugas dan mengabdi untuk masyarakat Baduy. Wanita dari Desa Ciboleger, Lebak, yang baru menyelesaikan program diploma satu kebidanan (1997) terus memberi pemahaman kepada masyarakat Desa Kanekes tentang pentingnya kesehatan.
Sehari-hari tugas Bidan Rosita tidaklah ringan. Bahkan, di tahun pertama, Rosita sempat ditolak masyarakat Baduy karena dianggap merusak kehidupan adat. "Pelan-pelan saya dekati tokoh adat di sana. Biar bisa masuk," kata Rosita.
Lambat laun, masyarakat mulai menerima kehadiran Rosita. Masyarakat yang dulu membenci dan menjauhi, kini berbalik mulai mengikuti yang diajarkan Rosita. Bahkan, pelayanan kesehatan yang diberikan Rosita, seperti pengobatan dan persalinan, makin diminati warga. "Sekarang sudah ramai. Saya tidak merasa sendiri lagi," ujar Rosita.
Mulanya, ibu dua anak ini hanya memberikan penyuluhan soal kesehatan. Untuk itu, Rosita tidak pernah memikirkan bayaran. Dia menerima apapun yang diberikan warga Baduy. Tidak jarang, Rosita harus dibayar dengan hasil bumi. Namun, semuanya itu diterima dengan ikhlas.
Di tengah perjalanan, sering juga Rosita mendapat fitnah. Namun, Rosita tidak menyerah. Dia terus memberi penyuluhan hingga belakangan terbukti, angka kematian bayi di Baduy menurun.
Saat ini, perempuan berusia 38 tahun ini juga membina sejumlah warga Baduy menjadi kader posyandu. Dengan begitu, mereka bisa membantu Rosita sehari-hari saat memberi penyuluhan di tengah masyarakat. "Tadinya saya belum bisa baca. Tapi sekarang sudah lancar menulis," kata Ambu Alis, warga yang kini membantu Rosita.
Rosita berharap bisa terus memberi penyuluhan kesehatan kepada warga Baduy. Selama ini dia merasa senang bisa melakukan itu, terlebih keluarganya sangat mendukung.(ULF)