Liputan6.com, Jakarta Kecelakaan tragis dua tahun lalu membuat kaki kiri pembalap M Fadli diamputasi dari lutut ke bawah. Saat ini, M Fadli, mantan pembalap kelas Supersport 600 cc, menggunakan kaki palsu dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Meski demikian, M Fadli tidak patah arang. Setelah memutuskan pensiun dari balap motor, Fadli memutuskan banting setir sebagai pembalap sepeda. Pria yang dulunya akrab dengan nomor 43 itu bahkan untuk pertama kali akan mewakili Indonesia pada Kejuaraan Para-Cycling Asia, di Bahrain, 24 Februari-3 Maret mendatang.
Dalam rilis yang diterima Liputan6.com, Fadli rencananya akan turun di nomor Individual Time Trial kategori C4, yang disebut sebagai salah satu nomor bergengsi di event paracycling. Sebagai pendatang baru, Fadli tidak mematok target tinggi mengingat selama ini olahraga tersebut hanya dilakoninya sebatas hobi saja.
Advertisement
Untuk mematangkan kemampuannya, Fadli berlatih secara intensif selama dua bulan di bawah pengawasan Puspita Mustika Adya. "Saya mengerti ini bukan hal yang mudah. Maka, saya tidak memasang target yang muluk-muluk. Yang terpenting, saya sudah berlatih keras dan saya pikir hasil akan mengikuti,” ujar Fadli.
M Fadli sebelumnya dikenal sebagai raja road race Indonesia. Sederet prestasi sempat ditorehkan pria bernama lengkap Mohammad Fadli Imammuddin tersebut. Di kelas supersport 600 cc, M Fadli juga ditakuti. Fadli bahkan pernah menjuarai balapan Asia Road Racing Championship (ARRC) seri ke-2 di Sirkuit Sentul, Bogor, 2015 lalu.
Pantang Menyerah
Sayang Fadli tidak sempat merayakan kemenangannya di atas podium. Sebab, saat selebrasi kemenangan usai menyentuh garis finis, musibah tragis menimpanya. Dia ditabrak pembalap Thailand dari arah belakang.
Akibat kejadian ini, kaki kiri Fadli terluka parah dan harus diamputasi. Setahun setelah kejadian, Fadli kemudian memutuskan mundur dari dunia balap motor dan sempat mendirikan sekolah balap "43 Racing School".
Sepeda juga bukan barang baru bagi Fadli. Semasa masih aktif balap motor, dia kerap berlatih dengan sepeda balap untuk menjaga stamina dan kebugaran. Namun semangat untuk tetap tegar dalam menjalani kehidupan usai kecelakaan menjadi pendorong bagi pelatih Puspita Mustika Adya mengulurkan tangan kepada Fadli.
"Saya melihat semangatnya. Makanya saya ajak dia untuk menjadi atlet paracycling dan ternyata dia mau. Saat ini, kecepatan rata-ratanya sudah mencapai 37-38 km/jam,” kata Puspita.
Puspita menambahkan, peluang Indonesia di paracycling cukup besar karena di Asia Tenggara baru Indonesia dan Malaysia yang aktif. Menurut dia, Fadli akan turun di kategori C4, khusus atlet memiliki luka di bawah lutut.