Liputan6.com, Jakarta: Tidak ada yang berbeda dengan kehidupan warga di Kampung Beting, Koja, Jakarta Utara. Layaknya permukiman kumuh lain, warga tinggal berdekatan satu sama lain dengan perabotan seadanya. Tak hanya itu, sebuah kenyataan pahit membuat Kampung Beting menjadi sorotan. Sebuah lembaga swadaya masyarakat mencatat sedikitnya 26 bayi dan janin dijual sejumlah orangtua di kampung ini.
Dengar saja pengakuan Irna, salah seorang warga yang menjual anaknya dengan imbalan Rp 2 juta karena kesulitan ekonomi. Demikian pula dengan Dini, wanita berusia 24 tahun yang tega menjual janin di dalam perutnya untuk membayar telepon seluler yang ia curi dari pemilik kontrakannya [baca: Miskin Jadi Alasan Menjual Bayi].
Kalangan sosiolog menilai, maraknya kasus penjualan bayi dan janin karena bobroknya sistem kependudukan di Indonesia. Kemiskinan memang menjadi beban, tapi pendidikan agama dan moral yang cukup bisa meminimalkan kasus perdagangan manusia yang jelas-jelas melanggar hukum itu.(ADO)
Dengar saja pengakuan Irna, salah seorang warga yang menjual anaknya dengan imbalan Rp 2 juta karena kesulitan ekonomi. Demikian pula dengan Dini, wanita berusia 24 tahun yang tega menjual janin di dalam perutnya untuk membayar telepon seluler yang ia curi dari pemilik kontrakannya [baca: Miskin Jadi Alasan Menjual Bayi].
Kalangan sosiolog menilai, maraknya kasus penjualan bayi dan janin karena bobroknya sistem kependudukan di Indonesia. Kemiskinan memang menjadi beban, tapi pendidikan agama dan moral yang cukup bisa meminimalkan kasus perdagangan manusia yang jelas-jelas melanggar hukum itu.(ADO)