Liputan6.com, Bandung: Bos primigenius atau lebih dikenal dengan sapi. Hewan ternak penghasil energi yang tidak tertandingi. Sapi memang tak seperti saudara serumpunnya seperti bison atau kerbau yang kuat secara fisik. Tapi sapi terbilang bagus untuk menghasilkan produk bermanfaat bagi manusia seperti daging, susu, bahkan kotorannya.
Pemanfaatan sapi diperkirakan sejak 400 tahun sebelum masehi. Nenek moyang sapi diperkirakan berasal dari Asia Tengah. Konon hewan memamah biak ini didatangkan dari India pada abad 19. Sedangkan sapi yang ada saat ini berasal kawin silang dari sapi Madura dan Red Deen. Juga kawin silang sapi lokal dengan sapi perah Frisian Holsteon dari Belanda.
Keberadaan sapi bagi manusia amat dibutuhkan. Susu sapi diperah untuk memenuhi konsumsi kalsium dan protein. Seekor sapi mampu menghasilkan sekitar 20 liter susu per harinya. Data dari Departemen Koperasi, pemenuhan susu Nasional sekitar 1,3 juta liter per hari. Sapi diperah setiap pagi dan sore.
Kotoran sapi pun dapat menjadi emas bagi peternak karena merupakan salah satu penghasil gas metana terbesar. Gas metana itu dapat digunakan untuk kompor biogas. Seluruh kotoran dapat diolah menjadi gas yang bermanfaat bagi rumah tangga dan menghasilkan api biru. Gas metana memiliki pemanasan lebih kuat dibanding karbondioksida dengan energi panas sekitar 4.500-6.700 kilokalor.
Tentu ini menjadi harapan di saat harga gas elpiji relatif mahal. Tabung elpiji tiga kilogram rata-rata hanya dapat dimanfaatkan sekitar sepekan dengan harga mencapai Rp 15 ribu di tangan pengecer. Sedangkan dengan produksi massal biogas hanya sekitar Rp 6.000 hingga Rp 7.000. Penggunaan gas ini juga tergolong aman karena terdapat pengaman sederhana yang berfungsi menjaga tekanan gas selalu stabil. Saksikan selengkapnya dalam video Eksis edisi Rabu (10/2).(YNI/YUS)
Pemanfaatan sapi diperkirakan sejak 400 tahun sebelum masehi. Nenek moyang sapi diperkirakan berasal dari Asia Tengah. Konon hewan memamah biak ini didatangkan dari India pada abad 19. Sedangkan sapi yang ada saat ini berasal kawin silang dari sapi Madura dan Red Deen. Juga kawin silang sapi lokal dengan sapi perah Frisian Holsteon dari Belanda.
Keberadaan sapi bagi manusia amat dibutuhkan. Susu sapi diperah untuk memenuhi konsumsi kalsium dan protein. Seekor sapi mampu menghasilkan sekitar 20 liter susu per harinya. Data dari Departemen Koperasi, pemenuhan susu Nasional sekitar 1,3 juta liter per hari. Sapi diperah setiap pagi dan sore.
Kotoran sapi pun dapat menjadi emas bagi peternak karena merupakan salah satu penghasil gas metana terbesar. Gas metana itu dapat digunakan untuk kompor biogas. Seluruh kotoran dapat diolah menjadi gas yang bermanfaat bagi rumah tangga dan menghasilkan api biru. Gas metana memiliki pemanasan lebih kuat dibanding karbondioksida dengan energi panas sekitar 4.500-6.700 kilokalor.
Tentu ini menjadi harapan di saat harga gas elpiji relatif mahal. Tabung elpiji tiga kilogram rata-rata hanya dapat dimanfaatkan sekitar sepekan dengan harga mencapai Rp 15 ribu di tangan pengecer. Sedangkan dengan produksi massal biogas hanya sekitar Rp 6.000 hingga Rp 7.000. Penggunaan gas ini juga tergolong aman karena terdapat pengaman sederhana yang berfungsi menjaga tekanan gas selalu stabil. Saksikan selengkapnya dalam video Eksis edisi Rabu (10/2).(YNI/YUS)