Liputan6.com, Jakarta - Atletik yang terdiri dari nomor lari, lompat, lempar, dan jalan merupakan induk dari semua cabang olahraga yang diperlombakan di Olimpiade. Tidak salah, cabor tradisional ini jadi salah satu yang tertua pada pesta olahraga empat tahunan itu.
Berbagai literatur mencatat, atletik telah hadir pada Olimpiade pertama 776 SM. Stade atau lari masih menjadi satu-satunya nomor yang dilombakan saat itu. Saat Olimpiade pertama di era modern digelar di Athena, Yunani, 1896 lalu, ateltik kembali menjadi primadona. Tidak hanya lari, saat itu, atletik juga telah melombakan nomor-nomor lainnya, seperti lompat dan lempar.
Advertisement
Seiring perjalanan waktu, cabang-cabang olahraga di Olimpiade terus bertambah. Namun pesona atletik tidak memudar di ajang empat tahunan itu. Sebab sebagai cabang terukur, atletik merupakan ujian dalam melewati batas-batas kemampuan manusia.
Rekor-rekor baru kerap tercipta. Atletik juga sampai saat ini masih jadi cabang yang menyediakan medali paling banyak. Amerika Serikat jadi juara umum Olimpiade 2012, salah satunya karena menguasai atletik dengan 9 emas, 12 perak dan 7 perunggu.
Tahukah Anda?
Pada Olimpiade London 2012, pelari asal Jamaika, Usain Bolt menjadi orang pertama yang mampu mempertahankan gelar juara di nomor lari 100 meter dan 200 meter.
Pada Olimpiade 2016, cabang olahraga atletik kembali menyediakan medali terbanyak. Total ada 47 medali emas yang bisa direbut negara peserta. Beberapa nomor unggulan antara lain, lari 100-10.000 meter, estafet, lompat gawang, maraton, lompat jauh, jalan cepat, lompat tinggi, lompat jangkit, lompat galah, lempar cakram dan lembing, lontar martil, dan tolak peluru.
Inti lomba atletik adalah mengungguli pencapaian lawan. Dalam atletik, kekuatan, kelenturan, dan kecepatan menjadi penentunya. Semua hasilnya tertuang dalam angka yang sangat terukur.
Jejak Indonesia
Sejak pertama kali mengikuti Olimpiade 1952 lalu, Indonesia sudah meninggalkan jejak di nomor atletik. Saat itu, Maram Sudarmodjo sempat tampil di nomor lompat tinggi, tapi gagal merebut medali. Lompatan terbaiknya hanya mencapai mampu 1,80 meter dan berada di urutan ke-20.
Mardi Lestari dan Purnomo Yudhi sempat membangkitkan asa Indonesia saat berhasil melaju ke babak semifinal pada nomor lari 100 meter. Pada Olimpiade 1988, Mardi Lestari bahkan sempat beradu cepat dengan salah satu sprinter legendaris, Carl Lewis. Sayang, Mardi gagal melaju ke babak final karena hanya finish di urutan ketujuh dengan catatan waktu 10,39 detik.