Liputan6.com, Manchester - Henrikh Mkhitaryan sempat memiliki masa kecil yang sulit. Itu saat ditinggal ayahnya yang meninggal dunia saat ia baru berusia tujuh tahun. Kini, pemain yang mengikuti jejak Ayah menjadi pemain sepak bola menjadi rekrutan ketiga Jose Mourinho di musim panas 2016.
Nama Mkhitaryan masuk dalam radar Mourinho setelah meneken kontrak dengan Manchester United. Mkhitaryan benar-benar meninggalkan Borussia Dortmund menuju Old Trafford. Kepastian itu terungkap setelah Dortmund merilis pernyataan soal kepergian Mkhitaryan pada Sabtu (2/7/2016).
Advertisement
Ia adalah pemain ketiga rekrutan MU di bawah rezim Mourinho. Sebelumnya, Mourinho sudah lebih dulu mendaratkan bek muda dari Villarreal Eric Bailly dan Zlatan Ibrahimovic yang musim lalu berkostum Paris Saint-Germain. Publik tentu mengenal Mkhitaryan sebagai gelandang andalan Borussia Dortmund selama beberapa musim terakhir. Namun, tak banyak pihak yang mengetahui perjalanan hidup dan karier Mkhitaryan sejak kecil.
Lahir di Yerevan, ibukota Armenia, pada 21 Januari 1989, Mkhitaryan sempat menjalani masa kecil yang sulit. Maklum, ia harus kehilangan seorang ayahnya yang meninggal karena tumor otak pada usia 33 tahun. Saat itu, Mkhitaryan sendiri baru berusia tujuh tahun.
Kepergian ayahnya benar-benar mempengaruhi kehidupannya. Dia merasa bila ayahnya masih hidup, segala sesuatunya akan berbeda. Sekadar catatan, ayahnya, Hamlet Mkhitaryan, adalah penyerang ternama klub Ararat Yerevan pada era 1980-an."Saya percaya ia melihat saya dan bangga kepada saya," ucap Mkhitaryan.
Hijrah ke Prancis
Di awal 1990-an, Mkhitaryan dan keluarganya sempat memutuskan hijrah ke Prancis karena Hamlet saat itu dikontrak ASOA Valence. Mkhitaryan menghabiskan masa kecilnya di Valence. Ia selalu menonton ayahnya bertanding dan ikut ke tempat latihan.
Sejak kecil, ia telah merajut mimpi bisa mengikuti jejak ayahnya. Mkhitaryan kecil begitu kehilangan saat Hamlet pergi untuk selama-lamanya. Mkhitaryan dan keluarganya sendiri kembali ke Yerevan pada 1995.
Di tahun yang sama, Mkhitaryan mulai menimba ilmu sepak bola dengan bergabung di akademi FC Pyunik. Uniknya, Mkhitaryan juga bukan orang yang melupakan betapa pentingnya pendidikan. Buktinya, ia tercatat sebagai sarjana salah satu institut di Armenia. Ia juga dikenal sebagai pria yang menguasai enam bahasa. Ia bisa berbicara dalam bahasa Armenia, Rusia, Inggris, Jerman, Prancis, dan Portugis. Bahkan, ia juga sedikit tahu soal bahasa Italia.