Liputan6.com, Marseille - Aksi petarung bebas mewarnai perhelatan Piala Eropa 2016. Kericuhan antarsuporter Rusia dan Inggris menjadi sorotan selama turnamen. Baru-baru ini terungkap fakta, Rusia memang memiliki suporter terlatih untuk berkelahi.
Sebuah video perkelahian baru-baru ini muncul di media massa Inggris. Suporter Rusia menjalani seleksi sebelum berangkat ke Piala Eropa 2016. Dalam cuplikan video tersebut, kelompok pendukung garis keras Rusia melakukan simulasi pertarungan jalanan.
Rekaman ini menunjukkan, ultras Rusia memang mempersiapkan diri mengikuti serangkaian latihan fisik sebelum beraksi di Prancis. Selama mengikuti seleksi, mereka bahkan harus rela menerima pukulan keras dari 'calon peserta' lainnya disaksikan pemimpin ketua kelompok suporter.
Baca Juga
- Suporter Bikin Onar Lagi di Laga Rusia Vs Slovakia
- Mourinho Tanpa Kekalahan di Pekan Pertama Liga Inggris
- Inggris Vs Wales: Hodgson Balas Sindiran Gareth Bale
Advertisement
Dugaan para suporter tersebut merupakan orang-orang terlatih sudah diprediksi oleh Brice Robin, seorang Jaksa di Marseille. Suporter garis keras yang datang dari negara pecahan Uni Soviet ini menyukai kekerasan, dan terlalu fanatik. Namun, Polisi seperti tidak berdaya menghadapi pendukung Rusia. Belum ada sanksi atau hukuman untuk pendukung Rusia. Bahkan, mereka kesulitan melacak pola-pola gerakan ultras Rusia.
Dalam perkelahian yang terjadi di Marseille, Minggu, (12/6/2016), kepolisian setempat mendakwa enam warga Inggris, sedangkan dua orang Rusia ditangkap setelah terbukti menjadi provokator di area tribun penonton. Andrew Bache, pria 51 tahun asal Inggris menjadi korban paling parah, yang hingga saat ini masih mendapat perawatan intensif. Andrew mengalami kerusakan otak karena dipukuli dengan batang besi.
2
Banyak model pendidikan 'militer' ala hooligan berhasil ditiru Ultras Rusia sejak era hooligan Inggris bekembang pada 1980-an. Namun, pendukung Rusia lebih solid, punya kebugaran fisik yang bagus, dan kuat secara sistem. Misalnya gemar memakai pakaian serba hitam, penutup wajah, pelindung gusi, dan tak lupa sambil mengayunkan tongkat ke arah lawan.
Ketika semakin dekat dengan pendukung Inggris, mereka mempersenjatai diri dengan tongkat logam, kursi sampai botol bir. Seperti yang baru saja terjadi pada Rabu (15/6/2016) atau Kamis dinihari WIB.
Kepolisian di Lille terpaksa menembakkan gas air mata ke arah kerumunan hooligan Inggris. Mereka mencoba merayakan kekalahan Rusia dari Slovakia di fase grup Piala Eropa, dengan cara yang anarkistis. Beberapa suporter Rusia juga berhasil dibekuk karena mencoba melempar botol ke arah aparat.
Ultras Rusia sudah mengubah banyak sejarah liga domestik negara tersebut. Beberapa geng kini didominasi oleh militan sayap kanan ekstrim, yang secara terbuka mengibarkan bendera bersimbol neo-Nazi.
Spartak Moscow, Lokomotiv Moskow, CSKA Moskow dan Zenit St Petersburg memiliki kelompok hooligan dengan masing-masing ratusan anggota. Andrei Malosolov, salah satu pendiri dari persatuan kelompok suporter Rusia, mengatakan kepada BBC alasan pelatihan fisik yang wajib dijalani anggotanya.
"Sekarang banyak orang jadi petinju atau belajar bela diri campuran, dan hooligan Rusia suka mengikuti cara hidup yang sangat sehat, menghindari alkohol menjadi bagian dari subkulturnya," tutur Andrei.