Liputan6.com, Padang: Gempa bumi yang kerap terjadi di Sumatra Barat, kini menimbulkan trauma berkepanjanagn bagi anak-anak. Mereka takut setiap kali terjadi gempa. Apalagi, mereka menyaksikan rumah mereka hancur luluh lantak diguncang gempa sekuat 7,6 skala Richter (SR) pada Rabu pekan silam.
Seperti yang dirasakan Irfan, murid kelas tiga Sekolah Dasar Sungaisapih, Koto Tangah, Kota Padang, Sumbar. Dengan perasaan hancur, Irfan mengais-ngais puing-puing kamarnya yang roboh akibat gempa. Ia mencoba mencari buku-bukunya yang masih bisa dipakai. Irfan berharap gempa segera berakhir dan bisa sekolah lagi seperti biasa [baca: Aktivitas Warga Padang Mulai Menggeliat].
Advertisement
Hal serupa dialami Putri dan adiknya, Caca. Saat gempa terjadi, ia berada di kamar mandi. Dia kemudian menghambur keluar rumah sembari histeris ketakutan. Gempa yang kerap mengoyak Ranah Minang memang membuat anak-anak ini trauma tak berkesudahan [baca: Air Mata dari Ranah Minang].
Betapa tidak, gempa berkekuatan besar pada 30 September silam itu hanya terpaut tak sampai dua bulan dengan gempa 6,9 SR di Padang [baca: Gempa Terus Goyang Sumbar]. Adapun berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Padangpanjang, jumlah gempa susulan pascagempa 7,6 SR, hingga Senin pagi sudah terjadi 582 kali.(ANS)