Liputan6.com, Jakarta - Pahit. Sungguh pahit ketika kemenangan yang ada di depan mata buyar begitu saja pada menit terakhir. "Bukanlah soal keunggulan dua gol yang lantas sirna, namun hal yang paling mengecewakan adalah gol penyama kedudukan pada menit ke-90," ujar Gianluigi Buffon usai Juventus kalah 2-4 dari Bayern München di Allianz Arena, Kamis (17/03/2016) WIB.
Baca Juga
- Ekspresi Rossi Satu Ruangan dengan Marquez di Qatar
- Wanita Ini Blakblakan Ingin Jadi Pacar Rio Haryanto
- Tinggalkan Chelsea, Keponakan Sultan Brunei Gabung Leicester
Advertisement
Andai saja tak ada gol dari tandukan Thomas Müller saat laga baru saja memasuki injury time, I Bianconeri akan melenggang ke perempat final Liga Champions dengan keunggulan agregat 4-3. Namun, gara-gara gol itu, mereka harus menjalani perpanjangan waktu yang lantas dihiasi dua gol tambahan dari Bayern.
Gol pada pengujung laga itu tentu saja bisa dimaknai berbeda. Bagi para pemuja Bayern, itu menunjukkan kekuatan Bayern-Gen, semangat untuk berjuang hingga peluit akhir ditiup wasit. Sementara bagi para pembenci Die Roten, itu lagi-lagi bukti dari Bayern-dusel, keberuntungan khas Bayern. Keberuntungan yang sebetulnya tak layak diterima Bayern.
Keberuntungan. Istilah ini sebenarnya sangat lekat dalam kehidupan manusia. Namun, menang secara beruntung adalah hal yang tak mengenakkan. Meski ada ujar-ujar bahwa orang pintar pun kalah oleh orang yang beruntung, tetap saja tak ada orang yang nyaman dikatakan menang berkat keberuntungan.