Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina (Persero) mengantongi pendapatan US$ 608,41 juta dari inisiatif-inisiatif dan proyek-proyek terobosan perusahaan yang dilakukan sepanjang 2015.
Hal inisiatif dan terobosan merupakan strategi Pertamina dalam menghadapi penurunan harga minyak dunia.
"Beberapa terobosan (Breakthrough Project/BTP) New Initiatives ditetapkan Pertamina sebagai upaya serius perusahaan dalam mengatasi tantangan bisnis migas seiring dengan penurunan harga minyak mentah dunia," kata Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro di Jakarta, Rabu (20/1/2016).
Dia mengungkapkan, BTP New Initiatives tersebut terdiri dari sentralisasi procurement (non hidrokarbon), perubahan proses pengadaan dan penjualan minyak dan produk, pembenahan tata kelola arus minyak, optimalisasi aset penunjang usaha, dan corporate cash management.
Dari inisiatif-inisiatif tersebut, Pertamina mendapat US$ 608,41 juta. Pendapatan tersebut melebihi target dengan nilai total US$500,4 juta sepanjang 2015.
Baca Juga
- Total Turunkan Harga, Bagaimana Pertamina dan Shell?
- Jika Dapat Bagian, Pertamina Cuma Mampu Kelola 25% Blok Masela
- PLN dan Pertamina Sepakati Harga Uap Panas Bumi, Ini Besarannya
Advertisement
“Dalam situasi yang sulit karena harga minyak terus turun, Pertamina harus melakukan terobosan-terobosan termasuk dalam hal melakukan efisiensi. Pencapaian BTP New Initiatives 2015 yang melebihi target menjadi indikasi positif bahwa program-program dapat berjalan dengan baik bahkan melebihi ekspektasi,” terang Wianda.
Dia menjelaskan terdapat tiga kontributor utama bagi pencapaian BTP New Initiatives tersebut, yaitu pembenahan tata kelola arus minyak yang ditempuh dengan melakukan penekanan losses dengan nilai impak finansial sebesar US$ 255,2 juta.
Perubahan proses pengadaan minyak dan produk melalui evaluasi formula harga dan efisiensi harga penjualan dan co-loading untuk parsel impor dengan nilai impak sebesar US$ 208 juta dan sentralisasi Procurement non hidrokarbon senilai US$ 90 juta.
"Adapun, inisiatif lainnya, yaitu optimalisasi aset penunjang usaha dan corporate cash management masing-masing berkontribusi sebesar US$ 27,8 juta dan US$ 27,3 juta," ungkapnya.
Finansial impak dari optimalisasi aset penunjang usaha berasal dari cash in dan cost saving baik di unit operasi maupun di kantor pusat. Adapun, finansial impak dari corporate cash ,management bersumber dari efisiensi pembayaran bunga.(Pew/Nrm)