Awi Suryadi, Badoet dan Horor Orisinal

Sutradara Awi Suryadi berbicara tentang film barunya, Badoet serta orisinalitas film horor kita.

oleh Arya Pratama PutraDiterbitkan 16 November 2015, 20:39 WIB
Awi Suryadi saat syuting Badoet. (dok. pribadi)

Liputan6.com, Jakarta Bayangkan ini hari Sabtu.

Anda dan beberapa teman sedang jalan di mall menghabiskan hari pertama dari libur akhir pekan. Kalian naik eskalator ke lantai paling atas dan melangkah ceria ke bioskop. Senyum manis
kepada satpam yang membukakan pintu. Dapat senyum manis dari mbak yang jaga tiket. Kemudian kamu bengong. Film yang tayang hari ini ada film aksi, komedi, komedi, aksi, horor, dan horor. Bingung.

Jika sudah begini, maka cara paling praktis adalah kalian memilah mana yang film luar, mana yang film Indonesia. Kelanjutan skenario tersebut gampang ditebak.

Film Indonesia selalu menderita jika dihadapkan dengan kondisi seperti di atas. Gugur ketika dihadapkan pada pilihan. Sederhananya tidak memberi kesempatan karena mereka merasa
yang ditawarkan oleh film Indonesia sudah pernah mereka lihat sebelumnya di film luar.

Film kebut-kebutan asal Indonesia, 'Street Society' berhasil menaklukan 'Malam Suro di Rumah Darmo' melalui 127 ribu penonton.

Sutradara Awi Suryadi yang sudah malang melintang di dunia film sejak 2005, punya pengalaman sendiri soal ini. "Contoh yang saya alami adalah Street Society (2014) dibilang meniru Fast
and Furious (2009)," ungkapnya dalam wawancara yang kami lakukan melalui surat elektronik.

That statement is insulting really, and naive. Biasanya yang ngomong begitu malah belum nonton filmnya kok. Memangnya film yang melibatkan balapan cuma Fast and Furious? Lagian Fast and Furious kan film heist (perampokan), sedangkan Street Society itu film lifestyle anak muda, seperti Catatan si Boy (1987). Sayangnya banyak media disini yang meliput film lokal pun tanpa menonton filmnya terlebih dahulu. Statement seperti itu akhirnya jadi judul artikel, padahal menurut saya itu sangat ignorant.”

Lanjut Baca:

Baca Juga Film Badoet dan Kegelisahan Daniel Topan Haresh Kemlani Yakin Film Badoet Puaskan Penonton Awi Suryadi terkenal dengan film Claudia/Jasmine (2008) yang punya penceritaan menarik tentang dua orang yang ternyata adalah satu. “Claudia/Jasmine is a special script. It's very personal. Saya tulis naskah itu tanpa deadline, tanpa pesanan produser or whatsoever. Sure I think as a script, it's still my best so far.” Setelah film tersebut, Awi Suryadi sudah melahirkan banyak karya film lainnya. Dengan genre yang beragam pula. Namun, jujur saya katakan belum ada yang bisa menandingi kualitas Claudia/Jasmine. “Claudia/Jasmine jadi bumerang buat saya, karena setiap kali saya ada film baru, selalu ada saja yang membandingkan dengan Claudia/Jasmine.” Sebagai sebuah produk, film tidak bisa menolak dari perbandingan. Dalam sejumlah hal, film bisa jadi butuh untuk dibanding-bandingkan. Sebagai tolak ukur pencapaian film itu sendiri. Bagi film-film Awi Suryadi, tolak ukurnya adalah Claudia/Jasmine. Bagi film-film Indonesia, film Hollywood lah yang menjadi titik acuan. Dari situ, timbul apa yang kita kenal sebagai selera pasar. Apa yang sedang digemari oleh penonton terpampang dalam angka-angka perolehan box office. Tetapi apakah sesimpel itu? “Selera pasar sangat susah ditebak. Film dari produser/sutradara/penulis bahkan pemain yang sama sekalipun bisa box office sebelumnya, tapi tidak laku sama sekali setelah itu. Tidak ada yang bisa menjamin sebuah film laku di Indonesia. Sejujurnya saya rasa belum ada filmmaker yang bisa menilik selera pasar penonton di sini secara pasti. Seorang pengamat film senior pernah dua kali memprediksi film saya akan tembus satu juta penonton, hasilnya tidak demikian. Tidak jarang terjadi seorang sutradara punya film yang box office tapi filmnya setelah itu sepi penonton.”

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya