Liputan6.com, Jakarta Meski gila baca, penulis tak membaca novel serial Goosebumps pada akhir 1990-an, saat novelnya booming. Tapi ada beberapa teman yang tergila-gila dengan serial itu.
Sebelum membuat ulasan ini, penulis sempat berpikir keras, kenapa dulunya tak memilih untuk membaca novel-novel Goosebumps, padahal teman di masa SMA dahulu bakal dengan tangan terbuka meminjamkan buku-bukunya.
Advertisement
Dan jawabannya adalah kombinasi rasa takut yang konyol dan kesombongan: konyol karena penulis merasa tak ingin ditakut-takuti oleh bacaan; sombong lantaran dulu menganggap horor sebagai karya rendahan. Waktu di ujung SMA dahulu, penulis mulai berkenalan dengan karya bernilai sastra. Picik betul, ya, pikiran penulis terdahulu?
Kalau dipikir lagi, sekarang ada sedikit rasa menyesal karena ranah bacaan penulis tak mencakup Goosebumps. Sebab, saat bertemu dengan orang-orang yang masa remajanya tumbuh dengan Goosebumps, penulis tak bisa berbincang dengan maksimal pada mereka. Mendengar mereka membicarakan Goosebumps, penulis hanya bisa mengira-ngira seri novel itu pasti seru sekali.
Kesempatan mencicipi serunya cerita di novel-novel Goosebumps (62 dengan judul asli dan lainnya berupa spin-off yang ditotal hingga kini berjumlah 182 judul buku) akhirnya kesampaian sekarang. Bukan lewat novel-novelnya, tapi lewat adaptasi filmnya yang kini diputar di bioskop.
Sebelum diangkat ke layar lebar, sebetulnya Goosebumps pernah diangkat jadi serial TV. Seorang kawan mengingatkan, serialnya pernah diputar di TV sini (ini penyesalan penulis lagi: tak mengikuti serial TV-nya saat tayang dahulu).
Yang menjadi pertanyaan ketika hendak menonton Goosebumps adalah, kenapa butuh dua puluh tahun lebih untuk mengangkat cerita tersebut ke layar lebar?