Liputan6.com, Malang - Piala Presiden 2015 akhirnya bakal digelar sesaat lagi di tengah konflik sepak bola yang terjadi di Indonesia. Turnamen ini dijadwalkan akan dibuka oleh Presiden RI Joko Widodo, pada Minggu (30/8) di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar, Bali.
Pembukaan Piala Presiden 2015 akan dikemas meriah namun memiliki pengamanan ketat. Selain menyuguhkan laga pembuka tuan rumah Bali United Pusam melawan Persija Jakarta, acara juga akan diramaikan dengan suguhan tari karya Profesor I Wayan Dibia, seorang koregrafer ternama Indonesia.
Pada Jumat (28/8) siang, tim redaksi Liputan6.com berkesempatan untuk berbincang dengan promotor Piala Presiden 2015, CEO Mahaka Sports, Hasani Abulgani. Hasani mengungkapkan alasan keberaniannya menyuguhkan oase bagi klub-klub yang kehilangan pendapatan akibat terhentinya seluruh kompetisi di musim 2015.
Berikut wawacara dengan Hasani Abdul Gani.
Berbicara mengenai sepak bola, sudah banyak sekali kekisruhan dan kompetisi sempat diberhentikan. Apa pertimbangan Mahaka sampai akhirnya menjadi promotor Piala Presiden?
Kalau kita melihat ke belakang, mengapa kita terlibat dalam hal ini, sebetulnya ini adalah permintaan dari klub-klub. Klub-klub merasa berhentinya kompetisi membuat mereka rugi, karena sudah teken kontrak dengan sponsor dan pemain.
Dengan kondisi yang ada, siapa yang bisa menjalankan kalau harus ada turnamen? Mereka datang ke kita dan kita oke tapi harus didukung. Karena kalau kami tidak didukung untuk apa? Maka terkumpul lah 16 tim hari ini.
Advertisement
Apa tantangan terberat Mahaka untuk mempersiapkan Piala Presiden?
Bisa semalaman ceritanya. Singkatnya, kami meyakinkan mereka untuk ikut turnamen ini dan itu tak mudah.
Pertama siapa Mahaka? Toh selama ini Mahaka tidak pernah pegang event sepak bola. Waktu pertemuan pertama, kami memperlihatkan siapa kami, apa saja yang kami kerjakan. Lalu mereka mulai yakin.
Di pertemuan kedua, kami jelaskan bakal memberikan hadiah sekian-sekian, barulah mereka katakan 'Mahaka Oke'. Namun, setelah kami mendapat peserta prosesnya tidak mudah.
Bagaimana kami bisa menjalankan turnamen ini, itu lebih panjang ceritanya karena kita tahu ada dua pihak yang berkonflik. Kita harus tahu bagaimana cara menyenangkan dua pihak itu, di tengah-tengah.