Liputan6.com, Jakarta: Nenek moyangku orang pelaut gemar mengarungi luas samudra. Demikian petikan syair lagu anak yang mengingatkan bahwa Indonesia adalah bangsa pelaut. Beragam bentuk perahu telah dibuat mereka sejak beberapa tahun silam. Kini, masyarakat bisa mengenang kejayaan masa silam tersebut di Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan, Jakarta Utara.
Museum Bahari diresmikan 7 Juli 1977. Di dalam museum terdapat sejumlah koleksi perlengkapan pelayaran yang pernah digunakan di Tanah Air. Satu di antara koleksi perahu yang menarik adalah kapal Alut Pasa milik suku Dayak, Kalimantan Barat. Perahu itu biasa dipakai warga Dayak sebagai sarana transportasi ritual untuk menyebrangi Sungai Mahakam. Selain itu, museum juga menyimpan alat penangkap ikan tradisional asli dari Kalimantan Timur seperti lukah, tempura, dan bubu. Penggemar dunia maritim juga bisa melihat koleksi alat bantu navigasi kemaritiman, biota laut, arkeologi laut, antropologi, dan folklore kenelayanan di museum itu. Begitu pula mengenal sejarah hubungan pelayaran Nusantara dan Belanda, wisata bahari, dan matra Angkatan Laut RI.
Sebelum diresmikan Pemerintah RI, Museum Bahari adalah sebuah gudang all ini one bernama Westzijdsche Pakhuizen yang didirikan pedagang Belanda (VOC) pada tahun 1718. VOC menggunakan gudang itu sebagai tempat menyimpan hasil pertanian seperti lada, pala, cengkeh, dan kopi. Selain itu, tekstil, timah, tembaga, dan perlengkapan kapal juga ditimbun di gudang tersebut. Lantas, gudang ini dibangun secara bertahap, yaitu tahun 1718, 1773, dan terakhir tahun 1774. Hingga kini, ketiga angka itu masih terbaca di pintu gerbang gedung. Gudang berbentuk benteng ini juga dilengkapi dengan pos-pos penjagaan dan sejumlah meriam.(KEN/Eva Yunizar dan Irfan Effendy)
Museum Bahari diresmikan 7 Juli 1977. Di dalam museum terdapat sejumlah koleksi perlengkapan pelayaran yang pernah digunakan di Tanah Air. Satu di antara koleksi perahu yang menarik adalah kapal Alut Pasa milik suku Dayak, Kalimantan Barat. Perahu itu biasa dipakai warga Dayak sebagai sarana transportasi ritual untuk menyebrangi Sungai Mahakam. Selain itu, museum juga menyimpan alat penangkap ikan tradisional asli dari Kalimantan Timur seperti lukah, tempura, dan bubu. Penggemar dunia maritim juga bisa melihat koleksi alat bantu navigasi kemaritiman, biota laut, arkeologi laut, antropologi, dan folklore kenelayanan di museum itu. Begitu pula mengenal sejarah hubungan pelayaran Nusantara dan Belanda, wisata bahari, dan matra Angkatan Laut RI.
Sebelum diresmikan Pemerintah RI, Museum Bahari adalah sebuah gudang all ini one bernama Westzijdsche Pakhuizen yang didirikan pedagang Belanda (VOC) pada tahun 1718. VOC menggunakan gudang itu sebagai tempat menyimpan hasil pertanian seperti lada, pala, cengkeh, dan kopi. Selain itu, tekstil, timah, tembaga, dan perlengkapan kapal juga ditimbun di gudang tersebut. Lantas, gudang ini dibangun secara bertahap, yaitu tahun 1718, 1773, dan terakhir tahun 1774. Hingga kini, ketiga angka itu masih terbaca di pintu gerbang gedung. Gudang berbentuk benteng ini juga dilengkapi dengan pos-pos penjagaan dan sejumlah meriam.(KEN/Eva Yunizar dan Irfan Effendy)