Slamet Rahardjo Menghargai Sinetron

SIKAP artis soal dunia sinetron beragam. Ada yang alergi berakting di sinetron. Alasannya tak memberi ruang eksplorasi yang luas untuk berkesenian. Pendapat itu sah-sah saja. Tapi, aktor dan sutradara kawakan Slamet Rahardjo Djarot tak sepemikiran. Sineas yang sudah diganjar beberapa penghargaan perfilman ini mengatakan, tanpa sinetron dunia akting dan film tak berkembang. "Kita harus hargai sinetron," kata kelahiran Serang, Banten, 54 tahun silam. Dengan alasan itulah pria berkumis...

oleh Liputan6Diterbitkan 05 September 2003, 14:35 WIB
SIKAP artis soal dunia sinetron beragam. Ada yang alergi berakting di sinetron. Alasannya tak memberi ruang eksplorasi yang luas untuk berkesenian. Pendapat itu sah-sah saja. Tapi, aktor dan sutradara kawakan Slamet Rahardjo Djarot tak sepemikiran. Sineas yang sudah diganjar beberapa penghargaan perfilman ini mengatakan, tanpa sinetron dunia akting dan film tak berkembang. "Kita harus hargai sinetron," kata kelahiran Serang, Banten, 54 tahun silam. Dengan alasan itulah pria berkumis ini mau bermain sinetron. Aktor yang juga produser itu tak peduli harus menjadi bintang utama atau cuma pemeran pembantu. Tentu saja sepanjang skenarionya sesuai dengan visinya sebagai seniman. Soal kritik buat dunia sinetron, Slamet mengatakan itu akan muncul selama masih berproses. "Tapi nilailah sinetron dengan formatnya." Slamet mencontohkan misalnya dengan menitipkan pesan agar sinetron tidak menyebarkan ajaran musyrik. "Imbauan kan boleh didengar," kata pemeran ayah ningrat dalam sinetron Gadis yang ditayangkan di SCTV setiap Kamis, pukul 18.30 WIB.

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya