Cerita Nonton `Fifty Shades of Grey` di Singapura

Cerita wartawan kami saat nonton Fifty Shades of Grey di bioskop Singapura. Apa yang ditulisnya soal film tersebut?

oleh Ade IrwansyahDiterbitkan 05 Maret 2015, 12:20 WIB
Fifty Shades of GRey mengalahkan rekor pembukaan akhir pekan pertama Twilight.

Liputan6.com, Singapura PERINGATAN: Spoiler Alert! Artikel ini mengungkap bocoran cerita dan inti film Fifty Shades of Grey.

 

"… (S)eksualitas manusia juga abnormal menurut standar tigapuluh juta spesies hewan lain di dunia."
—Jared Diamond di buku Why is Sex Fun? The Evolution of Human Sexuality (1997)—

 

I. Singapore

Kesempatan berkunjung ke Singapura akhir pekan kemarin tak saya sia-siakan untuk melakukan hal ini: nonton `Fifty Shades of Grey` di bioskop.

Ya, di negeri singa film tersebut dapat izin rilis di bioskop. Di negeri kita dan Malaysia filmnya tak lolos sensor. Berkas unduhan atau DVD bajakannya memang sudah tersedia, namun godaan untuk melihatnya di bioskop begitu besar kemarin. Dan Anda tentu juga sepakat nonton film di layar laptop atau TV memiliki sensasi berbeda dengan nonton di layar lebar dalam keremangan bioskop.

Tambahan pula, `Fifty Shades of Grey` bukan film sembarangan. Hingga kini, filmnya tercatat sebagai film berkategori dewasa paling laris sepanjang masa, sudah menghasilkan lebih dari setengah miliar dollar AS atau setara Rp 6,4 triliun dari seluruh dunia. Ia juga jadi fenomena kultural global. Maka, ikut menjadi bagian dari keriuhan tersebut bersama masyarakat global adalah kesempatan yang amat sayang bila diilewatkan.

Maka, di situlah saya, pada Sabtu (28/2/2015) malam pukul 20.00 waktu Singapura mengantre tiket di bioskop Shaw Brothers Lido di gedung Shaw House lantai 6, Orchard Road, Singapura hendak nonton `Fifty Shades of Grey`. Antrian tak banyak. Saya beli tiket untuk pertunjukkan jam 21.40. Harganya 12 dollar Singapura atau setara Rp 113 ribu. Memilih kursi deretan tengah, O-15 persis dekat lorong. Ketika duduk santai di sofa menunggu pintu teater dibuka, saya mendengar suara-suara orang mengobrol dalam bahasa Indonesia. Saya hanya nyengir dalam hati.

Foto dok. Liputan6.com

Lanjut Baca:

Wartawan Liputan6.com dengan tiket nonton Fifty Shades of Grey. Saat masuk bioskop, film tak langsung main. Saya harus menunggu lagi kira-kira 20 menit. Sepanjang waktu itu layar diisi iklan-iklan. Berbagai macam iklan diputar, bukan cuma trailer film-film yang hendak tayang. Hm, rasanya iklan-iklan di bioskop kita tak sebanyak itu. Jelas kalau di Singapura beriklan di bioskop dianggap penting bagi pengiklan. Sebelum film mulai saya menengok ke belakang. Wow, deretan kursi di belakang saya hampir terisi penuh. Sementara itu, tiga deret kursi di depan saya juga terisi. Ini berarti dua pertiga teater dipadati penonton. Saya bertanya-tanya, berapa orang Indonesia yang nonton bersama saya malam itu?

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya