Ketika Hari Valentine Dianggap 'Setan' di Rusia

Demam Valentine juga melanda negara-negara mayoritas Muslim di Asia Tengah, tepatnya di Kirgizstan.

oleh Fitri SyarifahDiterbitkan 14 Februari 2015, 08:00 WIB
Foto: Fanpop

Liputan6.com, Rusia Tak hanya di beberapa negara Muslim seperti Iran, Malaysia, Arab Saudi dan Indonesia, demam Valentine juga melanda negara-negara mayoritas Muslim di Asia Tengah, tepatnya di Kirgizstan. Mereka menganggap, valentine telah merusak budaya lokal yang bertentangan dengan Islam.

Seperti dimuat laman Ibitimes, Jumat (13/2/2015) sekolah-sekolah di Kyrgyzstan telah melarang perayaan Hari Valentine. Menurut sebuah laporan di RIA Novosti, kantor berita Rusia, pejabat di kota Osh bahkan telah melarang siswa-siswinya untuk merayakan valentine. Anggota parlemen di Kyrgyzstan juga menyatakan, valentine telah membawa pengaruh buruk pada moralitas anak-anak sehingga disebut 'Devil Day' (Hari Setan;Iblis).

Kepala Departemen Pendidikan setempat, Kimsanov mengatakan, ia telah memerintahkan kepala sekolah di kota untuk memastikan bahwa tidak ada siswa-siswi yang bertukar kartu dan bunga di Hari Valentine.

Sejumlah negara Muslim seperti Iran dan Arab Saudi, memang merasa hari valentine tidak cocok dengan kepercayaannya. Begitupun di India, Hari Valentine sangat populer di kalangan pemuda kelas menengah akibat masuknya pengaruh budaya Barat. Padahal di negara yang didominasi Nasrani seperti Rusia, juga melarang perayaan Hari Valentine di sekolah-sekolah dan gedung-gedung pemerintah sejak 2011.

Di Uzbekistan, sejumlah pemimpin agama mengutuk Hari Valentine sebagai tradisi berbahaya yang bertentangan Islam. Tahun lalu, sejumlah universitas di negara itu juga melarang hari yang disebut 'cinta' itu. Pejabat setempat serta guru juga berhak memberikan hukuman yang keras pada setiap siswa yang absen untuk merayakan valentine.

Tag Terkait

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya