Kemiskinan dan Ras Tingkatan Risiko Asma pada Anak

Ternyata, bukan hidup di perkotaan yang sebabkan tinggal di perkotaan.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 23 Januari 2015, 10:30 WIB
Inhaler yang menjadi pilihan bagi penderita asma tergolong parah, tak akan bekerja maksimal bila pasien masih bandel

Liputan6.com, New York- Tingginya tingkat polusi udara yang ada di perkotaan membuat banyak orang awam mengira dapat meningkatkan tingginya seorang anak terkena asma. Namun, hasil penelitian terbaru menyatakan hal yang berbeda. Ada faktor lain yang menyebabkan anak lebih berisiko mengalami penyakit yang mendera sistem pernapasan ini.

Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology yang meneliti 23.000 anak-anak usia 6-17 tahun di Amerika Serikat menemukan fakta bahwa faktor ekonomi dan suku bangsa lebih berpengaruh terhadap seorang anak terkena asma."Kami terkejut menemukan fakta bahwa hidup di perkotaan bukan menjadi risiko terjadinya asma," terang asisten profesor pediatri di John’s Hopkins Children’s Center seperti dilansir laman Time, Jumat (23/1/2015).

Penelitian yang dilakukan selama 2009-2011 ini menunjukkan bahwa prevalensi asma pada ank kota mencapai 12,9 persen sedangkan di luar itu 10,6 persen. Namun ketika peneliti memperhitungkan ras, etnis, geografis, jenis kelamin dan usia, hal tersebut tidak lagi signifikan.

Selain itu, kelahiran prematur, kemiskinan yang berujung pada stres membuat banyak anak berisiko untuk terkena asma.
Lalu, ras dapat meningkatkan risiko terkena asma karena beberapa penelitian telah menemukan fakto genetik terutama orang Afrika yang berisiko besar terkena asma.

 

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya