The Hobbit: The Battle of the Five Armies, Akhir Sempurna!

Lewat The Hobbit, Peter Jackson menunaikan tugasnya menyempurnakan sebuah hikayat menjadi lingkaran sempurna.

oleh Ade IrwansyahDiterbitkan 23 Desember 2014, 18:00 WIB
The Hobbit: The Battle of the Five Armies bakal mnejadi judul terakhir Peter Jackson di dunia Middle Earth.

Liputan6.com, Jakarta Di akhir novel The Hobbit, Gandalf berkata pada Bilbo Baggins, "Kau hobbit yang sangat baik, Mr. Baggins! Dan aku sangat bangga akan dirimu; tapi kau juga hanya makhluk kecil di tengah alam semesta yang begini besar!"

"Syukurlah!" kata Bilbo sambil tertawa, seraya mengulurkan tempat tembakaunya.

Versi filmnya, bagian ketiga atau tepatnya The Hobbit: The Battle of the Five Armies tidak berakhir begitu. Di ujung film kita melihat Bilbo Baggins yang sudah tua di dalam rumahnya. Ia termenung sambil mengenang petualangannya di masa muda. Lamunannya diganggu ketukan pintu. Ada tamu. Gandalf, kawan lamanya datang.

Di novel aslinya, JRR Tolkien, sang pengarang, hendak berpesan bahwasanya dunia yang dditinggali Bilbo Baggins sang hobbit sungguhlah luas. Ia seolah hendak memberi petunjuk, petualangan yang lebih besar, atau bahkan malapetaka yang punya skala lebih luas bakal terjadi di Dunia Tengah (Middle Earth), dunia tempat ia tinggal.

Sementara itu, akhir versi filmnya adalah sebuah lingkaran penutup dari hikayat Dunia Tengah di layar lebar. Dengan adegan kedatangan kakek penyihir Gandalf ke rumah Bilbo tua, antara trilogi The Hobbit--yang dimulai 2012 lewat The Hobbit; An Unexpected Journey, lalu berlanjut dengan The Hobbit: The Desolation of Smaug (2013) dan berakhir di film ketiga, The Hobbit: The Battle of the Five Armies ini--akhirnya bertemu dengan trilogi The Lord of the Rings (Fellowship of the Ring [2001], The Two Towers [2002], dan The Return of the King [2003]).

Trilogi The Lord of the Rings merupakan salah satu dari sedikit rangkaian tiga film yang layak disebut klasik, tak lekang dimakan zaman. Sepanjang sejarah sinema, hanya sedikit trilogi yang pantas menyandang predikat itu. Selain The Lord of the Rings ada trilogi Star Wars pertama, trilogi The Godfather, trilogi Back to the Future, trilogi The Matrix, trilogi Spider-man-nya Sam Raimi, dan trilogi The Dark Knight atau tiga film Batman-nya Christopher Nolan.

Lanjut Baca:

Hollywood kemudian memang kerap tergoda memperpanjang umur sebuah franchise. Namun pula, hasilnya kerap mengecewakan. Sebuah trilogi sempurna dirusak film lanjutan atau sekuel yang, bukan saja tak sanggup melampaui tiga film sebelumnya, tapi juga merusak nama baik film pendahulunya. Misal, trilogi Indiana Jones yang dirusak oleh sekuelnya Indiana Jones: The Kingdom of the Crystal Skull. Atau pula, yang kerap jadi contoh klasik bagaimana trilogi yang sempurna dirusak tiga film yang lahir dari semesta yang sama adalah trilogi Star Wars. Tiga film prekuelnya--The Phantom Manace, Attack of the Clones, dan Revenge of the Sith--hampir semua sepakat, merupakan sebuah bencana. Sang pencipta Star Wars, George Lucas merusak masterpiece-nya sendiri dengan membuat tiga film--yang mengisahkan cerita sebelum trilogi pertama--dengan kualitas jauh di bawah film-film terdahulu. Ia menyuguhkan penggemar setianya cerita tentang konflik dagang di luar angkasa, karakter punakawan yang konyol (Jar Jar Binks!), serta pemeran utama yang berakting kaku (Hayden Christensen sebagai Anakin Lukeskywalker alias Darth Vader). Saat Peter Jackson memutuskan mengambil alih komando membuat tiga film dari hikayat Dunia Tengah yang sejatinya adalah prekuel dari trilogi The Lord of the Rings karyanya, dalam diri ini muncul rasa khawatir: apa ia bakal mengulangi kesalahan yang sama yang dibuat George Lucas?

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya