Resensi Senyap (The Look of Silence) dan Bandingkan dengan Jagal

Setelah menonton `Senyap`, bagaimana wartawan kami memandang film itu dan membandingkannya dengan `Jagal`?

oleh Ade IrwansyahDiterbitkan 12 November 2014, 19:00 WIB
Setelah menonton `Senyap`, bagaimana wartawan kami memandang film itu dan membandingkannya dengan `Jagal`?

Liputan6.com, Jakarta Bagi yang sudah nonton The Act of Killing atau Jagal, pertanyaan yang datang ketika hendak menonton The Look of Silence atau Senyap adalah, lebih bagus mana? Mana yang lebih asyik ditonton, Jagal atau Senyap yang dua-duanya buah tangan Joshua Oppenheimer dan berkisah tentang malapetaka pembunuhan massal 1965?

Namun, setelah menontonnya, yang muncul justru tanya yang ini: masih pentingkah pertanyaan di atas?

Ketika Jagal pertama kali diputar di negeri ini, kira-kira dua tahun lalu, pemutaran terbatas berlangsung di Salihara, sebuah kantong kesenian di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Pemutaran berlangsung diam-diam. Yang menonton diseleksi betul. Keamanan juga diperketat.

Setelahnya, Jagal ditonton dengan pola serupa berkali-kali di berbagai tempat. Filmnya tak pernah edar resmi—dalam arti dijual VCD atau DVD resminya dengan cap lulus sensor LSF. Berkas atau file filmnya tersedia di dunia maya. Siapa saja bisa mengunduhnya, gratis. Yang tak mau repot-repot, juga bisa menontonnya di YouTube.

Senyap bernasib lain dengan Jagal. Dua tahun setelah Jagal pertama kali diperkenalkan ke publik terbatas, Senyap diputar perdana dalam sebuah acara yang terbilang megah di gedung Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Senin (10/11/2014) lalu. Pemutaran ini diselenggarakan oleh Komnas HAM, sebuah lembaga resmi negara, bersama Dewan Kesenian Jakarta, juga lembaga resmi, mitra Gubernur Jakarta yang mengurusi perihal kegiatan berkesenian di ibu kota.

Foto dok. Liputan6.com

Pengumuman pemutaran film Senyap disebar terbuka di dunia maya. Siapa saja boleh nonton setelah mendaftar dahulu secara online. Konon, ada lebih dari seribu orang mendaftar online tertarik nonton. Panitia yang merencanakan memutar film satu kali, menambah satu lagi jam pemutaran untuk memenuhi minat orang menonton Senyap.

Lanjut Baca:

Maka, pertanyaan yang lebih menarik untuk diajukan adalah, kenapa nasib Senyap berbeda dengan Jagal? Yang menarik ditelisik juga, apakah Indonesia sudah berubah demikian pesat dari saat Jagal pertama ditonton publik dengan sembunyi-sembunyi (baca: tahun 2012), ke momen Senyap ditonton massa yang membludak di TIM tempo hari (baca: tahun 2014)? *** Baiknya kita bicara kontennya dulu alias isi film Jagal dan Senyap. Jagal adalah sebuah pencapaian tersendiri dari sudut sebuah karya dokumenter. Film ini jadi favorit kritikus film Barat ketika edar dari festival film ke festival film. Juri Oscar 2013 bahkan memasukkan film ini dalam daftar Film Dokumenter Terbaik (meski kalah dari 20 Feet from Stardom). Jagal meraih pencapaian estetis yang tinggi lantaran filmnya tampil tak seperti film dokumenter kebanyakan. Joshua mengambil cerita dari sudut pandang pelaku pembunuhan massal 1965. Yang disuguhkan Joshua juga mencengangkan—terutama bila dilihat dari sisi orang Barat. Di Jagal, para pembunuh dengan suka rela dan rasa bangga menceritakan kembali bagaimana mereka melakukan pembunuhan-pembunuhan keji kepada orang-orang yang dianggap anggota PKI maupun simpatisannya. Tak cuma itu, mereka juga rela merekonstruksi perbuatan mereka dalam sebuah film bohongan yang disyut Joshua.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya