Liputan6.com, Jakarta Menonton film ini, Tabula Rasa, saya teringat sebuah pepatah: "Asam di gunung, garam di laut, bertemu dalam belanga." Pun begitu di sini. Kita bertemu Emak dari tanah Minang dan Hans dari Papua, mereka bertemu di dapur.
Tabula Rasa disebut sebagai film kuliner pertama tanah air. Saya tak tahu klaim itu benar atau tidak. Saya pun tak hendak memeriksanya.
Advertisement
Sebelum membahas filmnya, menarik untuk mengulik asal muasal kuliner Minang dan Papua. Saat melaporkan tentang kuliner minang, harian Kompas, Minggu, (1 /9/2013), mencatat bahwa makanan serupa rendang --mengutip dari sejarawan-- sudah dikenal masyarakat Minangkabau antara abad ke-4 dan ke-10.
Namun dalam catatan itu, tertulis soal masakan olahan daging di tanah Minang yang baru muncul dalam laporan-laporan ulama Islam Syekh Burhanuddin asal Ulakan, Pariaman, pada abad ke-17. Mengutip sejarawan, Kompas menulis, seiring dengan proses Islamisasi tanah Minang, sang ulama menjadikan makanan olahan daging sebagai media syiar Islam. Ia berusaha mengubah kebiasaan memakan makanan berbahan daging yang tidak halal.
Asal tahu saja, nama rendang masih relatif baru. Pada 1930-an, istilah rendang baru muncul di majalah-majalah perkumpulan orang Minang.
Sejarah kuliner Minang
Meski namanya baru muncul pada abad ke-20, rendang—dan tradisi kuliner Minang umumnya—lahir berabad lampau. Masakan khas tanah Minang lahir sebagai akibat dari Sumatera yang terlibat dalam perdagangan rempah dunia, bahkan sebelum orang Eropa datang. Pada abad ke-13, pedagang India Tamil berburu lada dan mulai menetap di pesisir barat Sumatera.
Lada banyak ditanam orang Minangkabau yang hidup di Sumatera tengah. Saat itu daerah tersebut masuk dalam kekuasaan Kesultanan Aceh. Lewat interaksi pedagang India dan orang Sumatera (terutama Aceh dan Minang) dikenallah penggunaan bumbu dan rempah-rempah.
Pesan dalam Tabula Rasa
Maka, tradisi masakan kari dari India segera merembes ke berbagai masakan Sumatera. Boleh dikatakan, masakan khas bagian barat Sumatera memang berasal dari India. Namun, evolusi ini tak membuat masakan khas Minang kehilangan identitasnya. Masakan khas Minang juga memperoleh pengaruh lain di luar tradisi memasak India. Kondisi lingkungan Minangkabau yang ditumbuhi banyak pohon kelapa misalnya, memungkinkan rendang lebih banyak mengandung santan daripada kari.