Smertin: Rusia Miliki Keuntungan dan Kelemahan

Gelandang Fulham, Alexey Smertin menilai Rusia punya keuntungan bermain di lapangan rumput sintetis ketika menjamu Inggris di Luzhniki Stadium, Rabu besok. Meski demikian, Smertin mengklaim tim asuhan Guus Hiddink pun memiliki kelemahan. Apa?

oleh Liputan6Diterbitkan 16 Oktober 2007, 06:26 WIB
Salah satu pemain asal Rusia yang berkiprah di kompetisi Liga Premier Inggris adalah Alexey Smertin. Sejak tahun lalu, gelandang Fulham berusia 32 tahun itu telah gantung sepatu dari kancah internasional setelah mencapai rekor 55 caps (pertandingan). Karenanya, pantas jika publik menyimak komentar mantan kapten Rusia itu terkait pertandingan vital yang bakal dilalui tim asuhan Guus Hiddink di Luzhniki Stadium, melawan Timnas Inggris dalam lanjutan kualifikasi Euro 2008 Grup E, Rabu (17 Oktober) besok.

Publik Rusia sudah tidak sabar lagi melihat aksi Andrei Arshavin dkk. Seperti yang dilansir Daily Mail, tiket sejumlah 74 ribu lembar—dari kapasitas maksimal stadion sebanyak 84.745 kursi—telah habis terjual. Bahkan, di pasar gelap harga tiket termurah senilai 6 pound melonjak menjadi 40 pound. Publik tahu betul inilah partai yang bakal menentukan laju tidaknya pasukan Hiddink ke putaran final di Austria-Swiss, Juni 2008 mendatang. “Wajib hukumnya bagi Rusia mengambil tiga poin. Lain daripada itu, hasilnya, bakal menambah buruk catatan persepakbolaan Rusia,” tegas Smertin.

Seperti diketahui, ketika Uni Soviet masih berdiri, tim yang dijuluki Beruang Merah itu baru satu kali mencicipi gelar juara Eropa, di tahun 1960 atau 15 tahun sebelum Smertin dilahirkan. Soviet gagal dalam tiga kali kesempatan bertanding di partai pamungkas: kalah dari Spanyol (1964), tunduk dari Jerman (Barat) pada 1972, dan keok di tangan Marco van Basten dkk (Belanda) pada 1988. Sejak berganti wajah di akhir 1990-an sampai sekarang, Rusia belum sanggup untuk kembali menancapkan kukunya di persepakbolaan Eropa.

Sama halnya dengan keyakinan publik Rusia, Smertin menilai tim asuhan Hiddink memiliki keuntungan bermain di Luzhniki yang lapangannya terbuat dari rumput sintetis. “Kami punya keuntungan. Hiddink tahu betul soal itu. Para pemain kami telah terbiasa bermain di lapangan seperti itu. Saya pun pernah beberapa kali tampil di Luzhniki. Sungguh berbeda dengan lapangan biasa,” ujar Smertin.

Smertin yakin inilah saat yang paling tepat bagi Arshavin dkk untuk mengibarkan kembali bendera Rusia di gelanggang Eropa. Apalagi, tim ditangani seorang pelatih sekaliber Hiddink. “Ia adalah manajer yang bagus. Ia ingin memodernisasi persepakbolaan Rusia. Itu yang sangat penting,” tegas Smertin. Lagipula, tambah Smertin, “Selain Piala Eropa, kami pun mengincar Piala Dunia (2010). Kami sangat percaya dengan Hiddink dan publik sangat menantikan hasil akhirnya.”

Namun, di balik keuntungan dan keyakinannya, Smertin mengaku Rusia punya kelemahan fundamental, yaitu tidak sanggup bermain dalam tempo yang konstan selama 90 menit pertandingan. “Itulah yang terjadi di Wembley (saat pasukan Steve McLaren unggul telak 3-0). Ketika itu, harus diakui, Inggris memang tampil lebih baik,” tandas Smertin yang dengan jujur mengaku rada menyesal tidak dapat memperkuat negaranya dalam pertandingan sepenting partai besok hari. “Memang, agak memalukan saya tidak dapat bermain di partai sebesar ini. Lagipula, saya belum pernah sekalipun bermain melawan Inggris. Tapi, saya telah membuat keputusan (pensiun dari gelanggang internasional),” pungkasnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya