Berbuka Puasa dengan Mi Caluk Khas Aceh nan Lezat

Meski telah berdagang belasan tahun, Rohani mengaku tidak tahu persis sejarah mengapa diberi nama mi caluk.

oleh Windy PhagtaDiterbitkan 21 Juli 2014, 07:24 WIB

Liputan6.com, Banda Aceh - Bulan suci Ramadan di Aceh bisa disebut bulannya festival kuliner di Aceh. Hampir seluruh masakan khas Aceh dijajakan di pinggir jalan sebagai menu berbuka.
 
Seperti halnya “mi caluk” yang juga disebut sebut sebagai “sphaghetti”-nya Aceh ini. Pada saat bulan suci Ramadan hampir di setiap lokasi yang menjajakan makanan untuk berbuka menyediakan mi caluk.

Salah seorang pedagangnya adalah Rohani. Telah berdagang selama 15 tahun, Rohani mewarisi resep membuat mi caluk secara turun-temurun.

"Dulu berjualan bersama nenek di Grong-Grong (wilayah di Aceh Pidie), lama-lama sudah bisa buat sendiri jualan sendiri," ujar Rohani yang memarkirkan gerobak dagangan di kawasan Lampaseh, Banda Aceh.

Meski telah berdagang belasan tahun, Rohani mengaku tidak tahu persis sejarah mengapa diberi nama mi caluk. "Gak tahu juga ya. Mungkin karena dicaluk-caluk (dicomot menggunakan tangan, red.)," kelakar Rohani sambil melayani pelanggan.

Pada Ramadan ini Rohani rutin membuat mi caluk dengan bahan baku mi tepung sebayak 30 kg, dengan setiap bungkus dibanderol  Rp 5 ribu.

"Hari biasa paling 10 kg saya buat. Puasa kayak gini saya buat rutin 30 kg. Walau sudah banyak yang jualan sekarang, tapi saya punya pelanggan tetap," tutur Rohani dalam bahasa Aceh.
 
Mi caluk memiliki perbedaan dengan mi Aceh dalam pengolahan dan bumbunya. Mi caluk yang sebenarnya menggunakan mi lidi, meski saat ini juga banyak yang menggunakan mi tepung sebagai bahan bakunya.

Dalam pengolahan, mi ini terlebih dahulu direbus maupun ditumis dengan berbagai olahan rempah-rempah. Nantinya mi yang telah diolah tersebut akan dinikmati dengan siraman saus kacang yang lezat.

Di se antero Aceh, mi caluk paling terkenal berasal dari kawasan Pidie. Warga terpikat kelezatan dan cita rasa bumbu kacangnya yang kaya akan rempah-rempah.

Mi caluk tidak hanya dijajalkan pada Ramadan. Mereka biasanya menjejerkan gerobak-gerobak dagangan di pusat pembelanjaan dan di pinggir jalan.

Di Banda Aceh, pada hari biasa kita dapat menjumpai pedagang mi caluk di seberang kiri Masjid Raya Baitur Rahman Banda. Pada Ramadan, warga sangat mudah menemuinya, bahkan di gang-gang perumahan ada pedagang mi caluk.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya