Liputan6.com, Banda Aceh - Masyarakat Aceh tidak bisa dipisahkan dengan kopi. Hampir setiap hari mereka tak pernah lupa untuk singgah di warung-warung kopi dan menyeruput minuman beraroma khas itu. Karena itu jugalah provinsi ini dijuluki negeri seribu warkop.
"Kurang pas rasanya kalau nggak kena kopi sehari saja," ujar Fahmi, salah seorang warga kota Banda Aceh, Aceh, kepada Liputan6.com, Kamis 3 Juli 2014.
Begitu pun saat Ramadan. Meski berpuasa, mereka pasti akan mencari celah untuk bisa menengguk si kopi Aceh. Biasanya warga Aceh akan menyerbu warung kopi usai menunaikan salat tarawih.
Tak heran, warkop-warkop penuh sesak. Sampai-sampai banyak yang tidak mendapatkan tempat duduk.
"Setiap malam sudah penuh sesak, sejak dari malam pertama puasa, begitu selesai tarawih sudah ramai," ujar Tio, salah satu pelayan warkop di seputaran Simpang Surabaya, Banda Aceh.
Sambil menikmati kopi, para pencinta kopi ini terkadang berdiskusi mengenai berbagai topik yang tengah hangat. Seperti perhelatan piala dunia dan sosok calon presiden-wakil presiden Indonesia.
Advertisement
Sebelum Ramadan, warkop-warkop di Serambi Mekah biasanya ramai dari pagi, sore, hingga malam. Namun saat Ramadan, kesempatan untuk menyeruput kopi baru bisa dilakukan setelah salat tarawih.
Kopi yang ditawarkan umumnya yang di warkop-warkop lain di Indonesia. Selain kopi hitam yang terbuat dari biji robusta, ada pula kopi encer dan kopi pancung. Kopi pancung adalah kopi hitam yang disajikan dengan ukuran setengah gelas. Biasanya lebih kental.
Ada pula kopi sanger alias si kopi susu. Jika kopi hitam, encer, dan pancung dihargai Rp 4 ribu per gelasnya, maka kopi sanger agak sedikit lebih mahal. Kopi ini dijual dengan harga Rp 6 ribu per gelas.
Di warkop-warkop Aceh, bubuk kopi robusta tak langsung diseduh di gelas. Tapi ditampung dulu di saringan kemudian baru disiramkan ke gelas-gelas kopi.
Pada momen Ramadan ini, para penikmat kopi jarang yang memesan penganan lain sebagai pendamping. Mereka memang bertandang ke warkop khusus untuk menikmati kopi. Padahal biasanya, kopi-kopi ini dinikmati bersama sarapan atau hidangan makan siang, seperti mie Aceh.
Pengunjung warkop mayoritas adalah kaum pria. Pada hari biasa, beberapa pengunjung wanita tetap ada. Namun pada momen Ramadan kali ini hampir tak ada perempuan yang berkunjung ke warkop. Kalau ada pun hanya 1 atau 2 orang. (Yus)