Liputan6.com, Rio De Janeiro - Ajang Piala Dunia yang disebut-sebut sebagai pesta bola paling spektakuler dipandang cukup potensial untuk meningkatkan perekonomian negara penyelenggaran dan juga perekonomian dunia. Brasil sebagai negara penyelenggara dianggap dapat memperoleh keuntungan dari tingginya kunjungan para turis dan meningkatnya konsumsi masyarakat yang bisa berimbas kepada perekonomian dunia.Namun mengutip laman Chinese News Service, Senin (16/6/2014), tak semua ekonom sependapat bahwa Piala Dunia membawa keuntungan besar bagi perekonomian global. Bahkan pengurangan jam kerja dan rendahnya efisiensi kerja di berbagai negara justru mencetak kerugian bagi perekonomian globalPerusahaan konsultasi China, Anbound Consulting mengatakan, di 2002 lalu, negaranya berhasil lolos ke ajang Piala Dunia untuk pertama kalinya. Perusahaan tersebut mencatat, China mengalami kerugian hingga 3,5 miliar yuan dari ajang bergengsi itu.Kerugian tersebut ditaksir dari pengurangan waktu kerja hingga ribuan jam hanya karena masyarakat menonton tim kesayangannya berlaga di Piala Dunia. Kala itu, banyak warganya dari berbagai sektor mengurangi produksi demi pertandingan tersebut.Dua profesor asal Amerika Serikat (AS), Baade Robert dan Victor Matheson yang mengamati perekonomian dunia setiap ajang Piala Dunia digelar juga menemukan kecenderungan yang sama. Saat Piala Dunia digelar di negaranya, pertumbuhan sejumlah negara bagian justru berkurang dari ekspektasi para ekonom.Menurut keduanya dan sejumlah ekonom lain, Piala Dunia hanya berjangka pendek khususnya di bidang jasa, ritel, dan makanan.Ekonom Jerman Florian Hagn dan Wolfgang Maennig juga meneliti pengalaman Jerman berkaitan dengan efek kerja dari Piala Dunia 1974. Menurutnya, Piala Dunia 1974 tidak berdampak panjang terhadap pola kerja masyarakat di sana.Sementara itu, seorang profesor ekonomi di University of Maryland Baltimore County, Dennis Coastes menemukan bahwa biaya penyelenggaraan Piala Dunia terus meningkat. Konstruksi stadion tetap menjadi salah satu pengeluaran terbesar, tapi faktor lain seperti keamanan untuk mengelola penggemar sepak bola juga semakin mahal.
Meningkatnya industri pariwisata tidak mampu menutupi jumlah pengeluaran penyelenggaraan ajang tersebut. Bahkan di Jerman, warganya memilih meninggalkan negaranya karena merasa terganggu dengan tingginya jumlah turis yang datang berkunjung.Memang, asumsi Piala Dunia dapat menarik lebih banyak pengunjung global tidak selalu benar. Para ekonom global menyimpulkan, Piala Dunia tidak menjadi ajang penghematan pengeluaran negara dan pendongkrak ekonomi global. (Sis/Gdn)
Advertisement