Plus-Minus Jokowi, Prabowo, dan Ical dalam Pemberitaan Media

Sumber data riset ini adalah 15 media massa nasional berjenis cetak, online, dan televisi.

oleh Edward PanggabeanDiterbitkan 28 April 2014, 06:21 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Emrus Corner menggelar penelitian terhadap pemberitaan media massa nasional terkait pemilihan presiden 2014. Hasilnya, menempatkan bakal capres PDI Perjuangan Joko Widodo di urutan  pertama dengan frekuensi pemberitaan 47%, disusul Prabowo Subianto dari Partai Gerindra 31%, dan diikuti Aburizal Bakrie dari Partai Golkar 22%.

Direktur Emrus Corner, Emrus Sihombing, mengatakan dari survey itu terlihat,"Jokowi relatif bersih dari kolusi, korupsi dan nepotisme, memiliki pengalaman sebagai pamong, prestasi menata Kota Solo, tipikal pemimpin yang administratif dan humanis serta tak memiliki masalah dengan masa lalu. Itu kata wacana media," Kata Emrus kepada wartawan, di Cikini, Jakarta, Minggu 27 April 2014.

Meski Jokowi berada di atas, namun Gubernur DKI Jakarta itu masih memiliki kekurangan. Selain masih prematur di kancah politik nasional, Jokowi pun tidak mempunyai visi dan misi yang jelas, serta belum memiliki konsep pembangunan ekonomi.

Selain itu, "Belum teruji melakukan komunikasi politik dengan politisi dari partai politik berskala nasional dan belum berpengalaman di partai politik," kata Emrus.

Sementara Ical sapaan Aburizal Bakrie, mempunyai kelebihan dan kekuatan dalam berpolitik. Selain berpengalaman sebagai pengusaha dan birokrat, Ketua umum Golkar itu memiliki jaringan yang luas serta berpengalaman memimpin partai.

"Tapi Ical memiliki kelemahan, yaitu perusahaannya tersandung kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo. Selain itu, ia bukan berasal dari Jawa," ujar dia.

Tak hanya itu Ical pun telah gagal mengangkat perolehan suara Golkar dari target di atas 25% pada pemilihan legislatif 9 April lalu. "Ini sudah jelas, saat ini perolehan suara Golkar hanya 14 persen. Jauh dari target 30%," ungkap dia.

Sedangkan, bakal capres Gerindra Prabowo Subianto dinilai memiliki kekuatan sebagai tipikal pemimpin yang tegas dan berani, relatif bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme, serta memiliki visi misi.

"Dari sisi komunikasi politik, dapat menjalin komunikasi dengan setiap golongan," ujar dia.

Di sisi lain, mantan Danjen Kopassus itu dianggap memiliki kelemahan antara lain sering dikaitkan dengan soal penculikan aktivis, serta dinilai banyak pihak memiliki tipikal yang keras.

Survei Emmrus Corner ini dilakukan pada Februari hingga medio April 2014 lalu, dengan menggunakan riset kualitatif dan diawali dengan content analysis. Kemudian dilanjutkan dengan discourse analysis dengan ruang lingkup memetakan isu dan gaya komunikasi capres dan cawapres. Sumber datanya adalah 15 media massa nasional berjenis cetak, online, dan televisi. (Yus Ariyanto)

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya