Pegawai Rumah Sakit Terpaksa Golput

Banyak warga yang ingin menyoblos pada Pemilu kali ini. Tapi, tuntutan tugas membuat petugas RS yang jaga tak bisa memilih.

oleh Fitri SyarifahDiterbitkan 09 April 2014, 13:52 WIB
Foto kolase ekspresi warga yang tidak memberikan hak pilihnya pada pemungutan suara Pemilu Legislatif 2014 menunjukkan tangannya yang bersih dari tinta pemilu di Jakarta (Antara Foto/Zabur Karuru)

Liputan6.com, Jakarta Tidak ada perubahan sistem dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) disesalkan sejumlah pihak. Bagaimana tidak, dalam pesta demokrasi yang seharusnya diikuti seluruh warga negara Indonesia, masih saja ada warga yang tidak punya kesempatan untuk memilih.

Contohnya saja Sri, suster jaga di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang ingin sekali ikut serta memilih calon pemimpin atau partai yang diusungnya. Sayangnya, ia tidak memiliki kesempatan mencoblos karena tidak dapat meninggalkan pasien.

"Bagaimana mau mencoblos, saya orang Bekasi. Mau ke sini (RSCM) saja dua jam. Belum absen, belum jaga pasien. Sedangkan memilih itu dari pukul 07.00. Mau coblos di sana nggak sempat," kata Sri saat ditemui di RSCM, Jakarta Pusat, Rabu (9/4/2014).

Hal senada juga diungkapkan pegawai lainnya yang tidak mau disebutkan namanya. Menurutnya, ia sangat ingin mencoblos namun ia tidak dapat meninggalkan pasien. Sementara dua Tempat Pemungutan Suara (TPS) yaitu Pegangsaan dan Kenari yang terdekat pun perlu waktu untuk menjangkaunya.

"Kecewa sih, tapi saya tidak bisa meninggalkan pasien," ungkapnya pada Liputan6.com.

Sebelumnya, pihak RSCM mengonfirmasi bahwa tidak ada TPS atau TPS keliling di lingkungan rumah sakit. Hal ini dikarenakan petugas rumah sakit banyak diliburkan. Jadi hanya petugas shift yang masuk. Pertimbangan lain, banyak petugas rumah sakit yang berasal dari luar Jakarta sehingga pihak RS merasa tidak perlu ada TPS karena mereka bisa mencoblos di daerah pilihannya masing-masing.

Tag Terkait

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya