Liputan6.com, Medan: Ribuan mahasiswa Universitas Sumatra Utara masih mogok kuliah, Rabu (05/9). Aksi yang digerakkan Forum Mahasiswa USU Bersatu itu menuntut penurunan sumbangan pembinaan pendidikan yang naik 100 persen. Aksi mahasiswa memasuki hari ketiga.
Para mahasiswa menyatakan akan kembali kuliah, jika kenaikan uang SPP dicabut. Pernyataan para mahasiswa ini dibacakan di depan Kantor Biro Rektor USU. Pernyataan terpaksa dibacakan setelah Rektor USU Chaeruddin Lubis tak bersedia berdialog dengan mahasiswa.
Usai membacakan tuntutan, sejumlah mahasiswa memblokir pintu keluar masuk kampus. Akibatnya segala aktivitas belajar mengajar terhenti. Selain itu para mahasiswa juga membakar ban di depan Kantor Biro Rektor. Pembantu Rektor III USU Jhon Tafbu Ritonga menyatakan kenaikan SPP tak bisa dihindari. Sebab, berbagai barang kebutuhan pendidikan naik.
Aksi mahasiswa juga terjadi di Universitas Lampung. Sekitar 1.500 mahasiswa baru Unila menolak sumbangan pokok dan iuran Persatuan Orang tua Mahasiswa dan Alumni (POMA). Penarikan sumbangan sebesar Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu setiap mahasiswa dinilai memberatkan. Unjuk rasa digelar saat penutupan Program Orientasi Perguruan Tinggi. Keseluruhan mahasiswa baru Unila mencapai 4.155 orang.
Para mahasiswa menuntut POMA dibubarkan dan Surat Keputusan Rektor mengenai sumbangan pokok dicabut. Para mahasiswa kecewa karena masalah tersebut hanya dibicarakan dengan orang tua dari jalur tanpa tes. Akibatnya, 3.500 orang tua mahasiswa jalur tes mengaku tak tahu. Padahal iuran tersebut sangat memberatkan mahasiswa tak mampu.
Rektor III Unila Toha Sampurna menyatakan POMA berada di luar struktur kelembagaan, walaupun telah disahkan rektor. Sementara itu, Ketua POMA Berawi Hadi menyatakan, pihaknya tidak pernah memaksa mahasiswa yang tidak mampu membayar penuh iuran. Mereka yang tak mampu diberi keringanan hanya membayar Rp 300 ribu saja. Sedangkan iuran itu akan digunakan untuk membiayai pembangunan sarana belajar dan bea siswa.(YYT/Tim Liputan 6 SCTV)
Para mahasiswa menyatakan akan kembali kuliah, jika kenaikan uang SPP dicabut. Pernyataan para mahasiswa ini dibacakan di depan Kantor Biro Rektor USU. Pernyataan terpaksa dibacakan setelah Rektor USU Chaeruddin Lubis tak bersedia berdialog dengan mahasiswa.
Usai membacakan tuntutan, sejumlah mahasiswa memblokir pintu keluar masuk kampus. Akibatnya segala aktivitas belajar mengajar terhenti. Selain itu para mahasiswa juga membakar ban di depan Kantor Biro Rektor. Pembantu Rektor III USU Jhon Tafbu Ritonga menyatakan kenaikan SPP tak bisa dihindari. Sebab, berbagai barang kebutuhan pendidikan naik.
Aksi mahasiswa juga terjadi di Universitas Lampung. Sekitar 1.500 mahasiswa baru Unila menolak sumbangan pokok dan iuran Persatuan Orang tua Mahasiswa dan Alumni (POMA). Penarikan sumbangan sebesar Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu setiap mahasiswa dinilai memberatkan. Unjuk rasa digelar saat penutupan Program Orientasi Perguruan Tinggi. Keseluruhan mahasiswa baru Unila mencapai 4.155 orang.
Para mahasiswa menuntut POMA dibubarkan dan Surat Keputusan Rektor mengenai sumbangan pokok dicabut. Para mahasiswa kecewa karena masalah tersebut hanya dibicarakan dengan orang tua dari jalur tanpa tes. Akibatnya, 3.500 orang tua mahasiswa jalur tes mengaku tak tahu. Padahal iuran tersebut sangat memberatkan mahasiswa tak mampu.
Rektor III Unila Toha Sampurna menyatakan POMA berada di luar struktur kelembagaan, walaupun telah disahkan rektor. Sementara itu, Ketua POMA Berawi Hadi menyatakan, pihaknya tidak pernah memaksa mahasiswa yang tidak mampu membayar penuh iuran. Mereka yang tak mampu diberi keringanan hanya membayar Rp 300 ribu saja. Sedangkan iuran itu akan digunakan untuk membiayai pembangunan sarana belajar dan bea siswa.(YYT/Tim Liputan 6 SCTV)