Liputan6.com, Jakarta: Mantan Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat Letnan Jenderal TNI Agus Wirahadikusumah (AWK) meninggal dunia. Agus meninggal di perjalanan saat hendak dibawa ke Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan, Kamis (30/8), sekitar pukul 06.00 WIB.
Menurut pegawai bagian gawat darurat RS Pertamina Zainal, jenazah AWK dibawa ke RS sekitar pukul 06.19 WIB dalam keadaan telah meninggal. Meski begitu, jenazah AWK sempat dibawa ke Ruang Gawat Darurat RSPP. Setelah dipastikan meninggal, almarhum langsung dikirim ke kamar mayat. Saat ini, jenazah AWK telah dibawa ke rumah duka di kawasan Bulak Rantai, Jakarta Timur.
Kesimpulan sementara, alumni AKABRI 1973 itu meninggal karena sakit, meski sejauh ini belum diketahui penyebabnya. Almarhum yang lahir di Bandung, 17 Oktober 1951, meninggalkan seorang istri bernama Tri Rachmaningsih dan dua orang anak, yakni Diyah Gustinar Savitri dan Yunan Mahastra Satria.
Sebelum menjabat sebagai Pangkostrad, AWK sempat menjabat Asrenum Panglima TNI, Panglima Daerah Militer VII/Wirabuana, dan terakhir menjadi Pati di Mabes TNI AD. Almarhum juga sempat menjabat sebagai Kepala Seskoad, tahun 1998. AWK juga sempat menjalani pendidikan Master of Public Administration di Harvard University.
Almarhum diberhentikan dari jabatan Pangkostrad 30 Juli 2000. Saat itu, ia membongkar korupsi di tubuh Kostrad. Tersiar kabar, Agus didepak akibat perseteruan laten antara kelompok Agus dan kubu Wiranto-Djadja Suparman. Wiranto berang karena Agus membongkar Kostradgate.
Kostradgate adalah pembobolan brankas Yayasan Dharma Putra, yayasan milik Kostrad, senilai Rp 190 miliar. Aib ini konon menyeret nama Djadja Suparman dan sejumlah petinggi korps baret hijau lain. Jika Agus mengusut kasus tersebut, bukan tak mungkin, efek domino skandal ini akan membuat jantung Wiranto dan Djaja berdebar kencang. Itulah sebabnya, sejumlah jenderal yang diduga terlibat melobi Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi untuk menggelar sidang pencopotan Agus dari jabatannya.
Satu di antara isi skandal yang sempat mencuat adalah hasil audit yayasan tersebut. Agus yang baru dilantik menerima laporan bahwa dana nonbujeter milik yayasan cuma tersisa sebesar Rp 189,5 miliar. Namun, di luar dana itu, Djadja ternyata pernah menarik Rp 135 miliar. Selain itu, ada setoran dari Mandala Airlines --maskapai milik yayasan-- senilai Rp 28,9 miliar yang tak jelas pertanggungjawabannya. Hal inilah yang membuat keponakan mantan Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah ini gusar.
Sementara itu, reporter SCTV Dyah Kusuma yang berada di kediaman almarhum melaporkan, suasana duka begitu menyelimuti rumah AWK. Sejumlah petinggi TNI, seperti Kepala Staf Teritorial TNI Letjen Agus Widjojo tampak melayat. Belum diketahui secara pasti mengenai tempat dan waktu pemakaman.(ULF/Tim Liputan 6 SCTV)
Menurut pegawai bagian gawat darurat RS Pertamina Zainal, jenazah AWK dibawa ke RS sekitar pukul 06.19 WIB dalam keadaan telah meninggal. Meski begitu, jenazah AWK sempat dibawa ke Ruang Gawat Darurat RSPP. Setelah dipastikan meninggal, almarhum langsung dikirim ke kamar mayat. Saat ini, jenazah AWK telah dibawa ke rumah duka di kawasan Bulak Rantai, Jakarta Timur.
Kesimpulan sementara, alumni AKABRI 1973 itu meninggal karena sakit, meski sejauh ini belum diketahui penyebabnya. Almarhum yang lahir di Bandung, 17 Oktober 1951, meninggalkan seorang istri bernama Tri Rachmaningsih dan dua orang anak, yakni Diyah Gustinar Savitri dan Yunan Mahastra Satria.
Sebelum menjabat sebagai Pangkostrad, AWK sempat menjabat Asrenum Panglima TNI, Panglima Daerah Militer VII/Wirabuana, dan terakhir menjadi Pati di Mabes TNI AD. Almarhum juga sempat menjabat sebagai Kepala Seskoad, tahun 1998. AWK juga sempat menjalani pendidikan Master of Public Administration di Harvard University.
Almarhum diberhentikan dari jabatan Pangkostrad 30 Juli 2000. Saat itu, ia membongkar korupsi di tubuh Kostrad. Tersiar kabar, Agus didepak akibat perseteruan laten antara kelompok Agus dan kubu Wiranto-Djadja Suparman. Wiranto berang karena Agus membongkar Kostradgate.
Kostradgate adalah pembobolan brankas Yayasan Dharma Putra, yayasan milik Kostrad, senilai Rp 190 miliar. Aib ini konon menyeret nama Djadja Suparman dan sejumlah petinggi korps baret hijau lain. Jika Agus mengusut kasus tersebut, bukan tak mungkin, efek domino skandal ini akan membuat jantung Wiranto dan Djaja berdebar kencang. Itulah sebabnya, sejumlah jenderal yang diduga terlibat melobi Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi untuk menggelar sidang pencopotan Agus dari jabatannya.
Satu di antara isi skandal yang sempat mencuat adalah hasil audit yayasan tersebut. Agus yang baru dilantik menerima laporan bahwa dana nonbujeter milik yayasan cuma tersisa sebesar Rp 189,5 miliar. Namun, di luar dana itu, Djadja ternyata pernah menarik Rp 135 miliar. Selain itu, ada setoran dari Mandala Airlines --maskapai milik yayasan-- senilai Rp 28,9 miliar yang tak jelas pertanggungjawabannya. Hal inilah yang membuat keponakan mantan Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah ini gusar.
Sementara itu, reporter SCTV Dyah Kusuma yang berada di kediaman almarhum melaporkan, suasana duka begitu menyelimuti rumah AWK. Sejumlah petinggi TNI, seperti Kepala Staf Teritorial TNI Letjen Agus Widjojo tampak melayat. Belum diketahui secara pasti mengenai tempat dan waktu pemakaman.(ULF/Tim Liputan 6 SCTV)