Liputan6.com, Jakarta: Polisi hingga Kamis (2/8) siang tengah memeriksa ketiga orang saksi untuk menemukan pelaku peledakan di depan lobi Hotel Aston Atrium Senen Jakarta Pusat. Peristiwa yang terjadi Rabu malam itu [baca: Lobi Hotel Aston Atrium Diledakkan] mengakibatkan enam orang mengalami luka-luka. Dengan memeriksa tiga saksi maka polisi telah memeriksa 16 orang.
Menurut Kepala Dinas Penerangan Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Anton Bachrul Alam, dari enam saksi yang diperiksa Polda Metro, tiga orang dicurigai sebagai pelaku peledakan. Alasannya, ketiga orang itu selalu bungkam saat dimintai keterangan.
Polisi juga menemukan sarung pistol dan telepon genggam yang diduga milik pelaku peledakan. Berbeda dengan keterangan Kapolda Metro Sofjan Jacoeb [baca:Sofjan Jacoeb: Bom Atrium Berjenis Low Explosive], hasil pemeriksaan sementara Pusat Laboratorium Forensik Markas Besar Polri menyebutkan ledakan itu berasal dari bahan peledak yang berkategori High Explosive.
Ledakan di Atrium itu adalah kesekian kali di Jakarta sejak Januari 2001. Pada Juli silam telah terjadi lima kali ledakan yakni di Jalan Semarang, Menteng, di Gereja Santa Anna dan di depan Gereja Huria Kristen Batak Protestan Jakarta Timur, di Mampang, Jakarta Selatan, dan Slipi, Jakarta Barat.
Sementara itu, tiga korban ledakan bom hingga saat ini masih dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakpus. Ketiga orang itu, Dodi Mulia, Darodjat dan Suryadi kondisinya cukup mengenaskan dengan luka di sekujur tubuh. Bahkan Dodi yang diduga sebagai tersangka masih dalam keadaan koma. Kaki kanannya terpaksa diamputasi. Mereka dirawat dengan penjagaan ketat aparat keamanan. Bahkan wartawan dilarang meliput para korban.
Sedangkan tiga korban lainnya, Anita, Yudi Mila Purnomo, dan Windu diperbolehkan pulang setelah sempat dirawat semalam. Mereka terluka akibat serpihan ledakan yang menancap di bagian kaki, tangan, kepala, muka, dan tubuh. (COK/Tim Liputan 6 SCTV)
Menurut Kepala Dinas Penerangan Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Anton Bachrul Alam, dari enam saksi yang diperiksa Polda Metro, tiga orang dicurigai sebagai pelaku peledakan. Alasannya, ketiga orang itu selalu bungkam saat dimintai keterangan.
Polisi juga menemukan sarung pistol dan telepon genggam yang diduga milik pelaku peledakan. Berbeda dengan keterangan Kapolda Metro Sofjan Jacoeb [baca:Sofjan Jacoeb: Bom Atrium Berjenis Low Explosive], hasil pemeriksaan sementara Pusat Laboratorium Forensik Markas Besar Polri menyebutkan ledakan itu berasal dari bahan peledak yang berkategori High Explosive.
Ledakan di Atrium itu adalah kesekian kali di Jakarta sejak Januari 2001. Pada Juli silam telah terjadi lima kali ledakan yakni di Jalan Semarang, Menteng, di Gereja Santa Anna dan di depan Gereja Huria Kristen Batak Protestan Jakarta Timur, di Mampang, Jakarta Selatan, dan Slipi, Jakarta Barat.
Sementara itu, tiga korban ledakan bom hingga saat ini masih dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakpus. Ketiga orang itu, Dodi Mulia, Darodjat dan Suryadi kondisinya cukup mengenaskan dengan luka di sekujur tubuh. Bahkan Dodi yang diduga sebagai tersangka masih dalam keadaan koma. Kaki kanannya terpaksa diamputasi. Mereka dirawat dengan penjagaan ketat aparat keamanan. Bahkan wartawan dilarang meliput para korban.
Sedangkan tiga korban lainnya, Anita, Yudi Mila Purnomo, dan Windu diperbolehkan pulang setelah sempat dirawat semalam. Mereka terluka akibat serpihan ledakan yang menancap di bagian kaki, tangan, kepala, muka, dan tubuh. (COK/Tim Liputan 6 SCTV)