Liputan6.com, Jakarta: Markas Besar Polri kembali memeriksa delapan perwira menengah polisi yang dianggap membangkang saat terjadi dualisme kepemimpinan di tubuh Polri. Tiga dari delapan perwira itu adalah Komisaris Besar Polisi Banjar Nahor, Kombes Pol. Salihin, dan Kombes Alfons Loemau. Mereka diperiksa anggota Dinas Provos Polri di dua tempat berbeda, Kamis (26/7). Demikian diungkapkan Wakil Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Komisaris Besar Edward Aritonang, di Mabes Polri, ketika pemeriksaan sedang berlangsung.
Edward menyebutkan, Alfons diperiksa di Markas Brigade Mobil Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Sedangkan sisanya, dimintai keterangan di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Menanggapi keterlibatan pejabat sementara Kapolri Jenderal Pol Chaeruddin, Edward menolak berkomentar.
Kasus ini bermula ketika sekitar 120 perwira menengah Polri membahas kemelut di tubuh Polri di Markas Besar Polri Jakarta Selatan, 9 Juli silam [baca: Bimantoro Diminta Berhenti Membangkang]. Dalam pertemuan itu, para pamen menyatakan keprihatinan atas konflik yang melanda Polri. Itu sebabnya, mereka meminta Kepala Polri nonaktif Jenderal S. Bimantoro menghentikan pembangkangan terhadap Presiden Abdurrahman Wahid. (AWD/Darussalam dan Donni Indradi)
Edward menyebutkan, Alfons diperiksa di Markas Brigade Mobil Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Sedangkan sisanya, dimintai keterangan di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Menanggapi keterlibatan pejabat sementara Kapolri Jenderal Pol Chaeruddin, Edward menolak berkomentar.
Kasus ini bermula ketika sekitar 120 perwira menengah Polri membahas kemelut di tubuh Polri di Markas Besar Polri Jakarta Selatan, 9 Juli silam [baca: Bimantoro Diminta Berhenti Membangkang]. Dalam pertemuan itu, para pamen menyatakan keprihatinan atas konflik yang melanda Polri. Itu sebabnya, mereka meminta Kepala Polri nonaktif Jenderal S. Bimantoro menghentikan pembangkangan terhadap Presiden Abdurrahman Wahid. (AWD/Darussalam dan Donni Indradi)