Tiam Pan, Tradisi Imlek yang Nyaris Hilang

Tiam Pan atau dodol hanya dibuat sekali dalam setahun yaitu menjelang perayaan Imlek. Namun usaha yang dijalani di Garut, Jabar, ini sudah semakin langka keberadaanya.

oleh Liputan6Diterbitkan 19 Januari 2009, 07:48 WIB
Liputan6.com, Garut: Menyambut Hari Raya Imlek atau Tahun Baru Cina, biasanya kaum Tiongkok melengkapinya dengan menyajikan dodol atu biasa disebut Tiam Pan. Tiam berarti manis dan Pan berarti kue, jadi Tiam Pan artinya kue manis karena dodol ini memang dibuat dari campuran gula pasir yang dicairkan dengan tepung ketan. Pada saat Imlek, Tiam Pan biasa digunakan sebagai pelengkap perayaan dan juga sebagai hantaran kepada kerabat.

Namun, usaha pembuatan Tiam Pan yang hanya dibuat sekali dalam setahun pada perayaan Imlek ini sudah semakin langka keberadaanya. Padahal usaha turun temurun yang dikembangkan di Garut, Jawa Barat, ini memiliki ciri khas tersendiri. Kemunduran usaha bisa terlihat dari orang-orang yang memproduksi. Jika pada tahun 1950-an terdapat sekitar sepuluh keluarga yang memproduksi, kini hanya tinggal lima keluarga saja yang mampu memproduksi.

Awalnya keluarga Ramali membuat Tiam Pan pada tahun 1912-an. Saat itu kakek Ramali yang merantau dari Tiongkok ke Garut hanya memproduksi untuk dibagikan kepada keluarga dan kerabat menjelang perayaan Imlek. Setelah memasuki tahun 1950-an, keluarga Ramali mulai memproduksi Tiam Pan tersebut untuk kegiatan usaha.

Bahan-bahan yang digunakan sejak dahulu masih sama, yaitu cairan gula pasir yang dicampur dengan tepung ketan. Namun, jika dahulu ketan yang digunakan hasil tumbukan sendiri, kini ia telah beralih menggunakan tepung ketan yang siap pakai. Bahan tersebut kemudian dicampur dan diaduk menggunakan wajan hingga matang. Setelah matang, adoanan itu dimasukan dalam keranjang cetakan dan ditimbang sesuai berat yang diinginkan.

Setelah dimasukan dalam keranjang cetakan, tahap selanjutnya adonan dimasukan dalam oven raksasa untuk dikukus. Menurut Ramali, dahulu untuk memasak Tiam Pan ia menggunakan kayu bakar, namun saat ini ia lebih memilih menggunakan minyak tanah. Kelangkaan minyak tanah yang belakangan terjadi dirasa semakin mempersulit usahanya.

Selanjutnya, Tiam Pan dikelurkan dari cetakan keranjang dan dibersihkan potongan plastik pinggirnya serta diberi label dan dikemas sesuai ukurannya. Awal menjalankan usahanya, Ramali mengaku mampu memproduksi sekitar 10 ton, namun saat ini ia hanya bisa bertahan dengan memproduksi dua ton.

Ramali berharap para keturunannya bisa mempertahankan tradisi pembuatan Tiam Pan ini, sehingga ia tidak menjadi generasi terakhir yang memproduksi Tiam Pan khas Garut. (UPI/Julianus Kriswantoro)

Sumiawan Ramali
Telepon : 0813.23.604604
Jl. Ahmad Yani 340, Koropeak, Garut
Jawa Barat

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya