Tengklung Terancam Punah

Kesenian tengklung dari Bali mendasarkan diri dari seni bela diri sitembak. Pemainnya adalah para pendekar silat. Mereka menunjukkan jurus andalan yang kemudian diantisipasi lawannya.

oleh Liputan6Diterbitkan 20 Januari 2008, 06:24 WIB

Liputan6.com, Denpasar: Kesenian tengklung dari Bali mulai terkikis zaman. Dulu, Tengklung banyak dijumpai terutama pada acara hajatan seperti pernikahan. Pemainnya adalah para pendekar silat. Mereka menunjukkan jurus andalan yang kemudian diantisipasi lawannya.

Sejatinya, tengklung mendasarkan diri pada seni bela diri sitembak atau depok yang berkembang di Bali Utara. Seni beladiri ini banyak terpengaruh pencak silat dari Jawa Barat. Namun seiring berjalan waktu, unsur-unsur budaya Bali ikut memperkaya dan mewarnai gerakan jurusnya.

Pada saat bela diri tidak digunakan karena situasi sudah relatif aman, para pendekar mengemasnya dalam bentuk seni pertunjukan. Inilah yang dinamakan tengklung. Dengan langkah ini, ilmu bela diri yang dikuasai para pendekar diharapkan tetap lestari.

Ironisnya, bela diri sitembak kini sudah kurang begitu populer. Salah satu pendekar yang masih menguasai jurus silat sitembak adalah Ketut Rauh Sutha. Meski sudah tua, kekuatan memainkan jurus silat sitembak masih mantap. Dia pun tak ragu beradu dengan para pesilat muda.

Bagi Sutha, bela diri sitembak ibarat telah mengalir di dalam darahnya. Jiwanya telah menyatu dengan setiap entakan gamelan tengklung. Meski demikian, Sutha tak tahu sampai kapan ilmu bela diri sitembak dengan tengklungnya masih akan tetap ada.(REN/Dodit Setiyohadi dan Anambo Tono)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya