Liputan6.com, Bengkulu: Kenaikan harga bahan bakar minyak masih berbuntut tak sedap di Bengkulu. Ratusan sopir angkutan kota di sana melakukan aksi mogok, hari ini, Jumat (22/6). Akibatnya, ribuan penumpang terlantar dan terpaksa diangkut dengan truk Komando Resor Militer dan dan Kepolisian Daerah setempat. Mereka menuntut Pemerintah Daerah untuk menaikan tarif penumpang umum sebesar 40 persen.
Aksi para sopir angkot ini dilakukan dengan cara memarkir kendaraan di dua tempat, yaitu, Masjid Jamik dan Kantor DPRD Bengkulu. Mereka menolak kenaikan yang ditetapkan Pemda mulai senin, 18 Juni silam, sebesar 20 persen bagi penumpang umum atau Rp 600 dari tarif lama Rp 500. Mereka juga menolak penetapan tarif bagi pelajar sebesar Rp 400 dan mahasiswa sebesar Rp 500.
Menurut mereka, ketentuan kenaikan tarif tak sebanding dengan kenaikan harga bensin yang berdampak pada kenaikan harga suku cadang kendaraan, serta setoran yang mencapai Rp 60 ribu per hari. Sebab, kata mereka, jumlah penumpang relatif sama.
Aksi mogok yang berlangsung hingga petang hari tak pelak membuat ribuan penumpang, terutama pelajar, terlantar. Beberapa penumpang menyesalkan aksi para sopir angkot, karena hal ini sangat merugikan penumpang yang menunggu berjam-jam di pinggir jalan. Atas permintaan Pemda Bengkulu, Korem 041 Garuda Emas dan Polda Bengkulu mengerahkan truk untuk mengangkut para penumpang.
Perundingan yang digelar antara Pemda, DPRD, perwakilan sopir angkot, dan pihak terkait lainnya berlangsung alot. Menurut Ketua DPRD Bengkulu Djali Affandi, DPRD sudah menanggapi tuntutan para sopir dengan menaikan ongkos menjadi Rp 600. Tapi, andai para sopir angkot menuntut kenaikan menjadi Rp 700 akan sangat memberatkan masyarakat.(RSB/Rishnaldi)
Aksi para sopir angkot ini dilakukan dengan cara memarkir kendaraan di dua tempat, yaitu, Masjid Jamik dan Kantor DPRD Bengkulu. Mereka menolak kenaikan yang ditetapkan Pemda mulai senin, 18 Juni silam, sebesar 20 persen bagi penumpang umum atau Rp 600 dari tarif lama Rp 500. Mereka juga menolak penetapan tarif bagi pelajar sebesar Rp 400 dan mahasiswa sebesar Rp 500.
Menurut mereka, ketentuan kenaikan tarif tak sebanding dengan kenaikan harga bensin yang berdampak pada kenaikan harga suku cadang kendaraan, serta setoran yang mencapai Rp 60 ribu per hari. Sebab, kata mereka, jumlah penumpang relatif sama.
Aksi mogok yang berlangsung hingga petang hari tak pelak membuat ribuan penumpang, terutama pelajar, terlantar. Beberapa penumpang menyesalkan aksi para sopir angkot, karena hal ini sangat merugikan penumpang yang menunggu berjam-jam di pinggir jalan. Atas permintaan Pemda Bengkulu, Korem 041 Garuda Emas dan Polda Bengkulu mengerahkan truk untuk mengangkut para penumpang.
Perundingan yang digelar antara Pemda, DPRD, perwakilan sopir angkot, dan pihak terkait lainnya berlangsung alot. Menurut Ketua DPRD Bengkulu Djali Affandi, DPRD sudah menanggapi tuntutan para sopir dengan menaikan ongkos menjadi Rp 600. Tapi, andai para sopir angkot menuntut kenaikan menjadi Rp 700 akan sangat memberatkan masyarakat.(RSB/Rishnaldi)