Karena itu, menurut Denny, orang yang ingin memiliki tato di tubuhnya harus kuat secara fisik dan mental. "Saya berani bertato karena berani melawan paradigma yang sudah mengakar di masyarakat Indonesia," kata dia.
Ditambahkan, Bobstick, penggemar tato lainnya, menghias tubuh dengan tato memang menyakitkan. Tapi, esensi dari tato itu adalah rasa sakit itu sendiri. "Bagi saya sakit itu sudah hal yang biasa," kata Bobstick.
Advertisement
Di mata Bobstick, tato merupakan bentuk perlawanan terhadap pandangan masyarakat yang selalu menganggap orang bertato adalah pelaku kriminal. Menurut dia, tato tak pernah bersalah, tapi justru manusianya yang jahat. "Jangan musuhi tatonya, tapi orangnya," kata Bobstick.
Pengalaman tak mengenakkan juga pernah dialami Renny. Mulanya, perempuan ini sering ditegur orang tuanya karena menghias tubuhnya dengan tato. "Tapi sekarang tidak protes lagi," ujar Renny.(IAN/Tim Liputan 6 SCTV)