Sejak kecil Jose aktif membaca puisi dan teater. "Waktu TK [taman kanak-kanak] sering ikut pertunjukkan di RRI [Radio Republik Indonesia] di Kalimantan, juga saat hari nasional. Anak-anak seperti saya diajak orang dewasa untuk main," tutur pria berambut panjang itu. Kemampuan teater makin terasah saat menuntut ilmu di Bengkel Teater Rendra. Setelah itu ia kerap memenangkan berbagai perlombaan. Bagi Jose, teater bukan sekadar seni pertunjukkan. "Seseorang dilatih menumbuhkan kepercayaan diri dan pikirannya," kata dia.
Jose lantas mendirikan Teater Tanah Air sekitar tahun 1998. Markasnya di Taman Ismail Marzuki. Di tempat inilah Jose menularkan ilmu kepada anak asuh tanpa memungut biaya. Meski begitu Jose komitmen tetap menghidupkan teaternya dari hasil keringat sendiri. "Orang di Indonesia tidak bisa hidup dari teater. Saya mensubsidi teater dari mengelola toko buku dan diundang membaca puisi di mana-mana," papar Jose.
Advertisement
Miskin dana bukan berarti miskin prestasi. Jose dan Teater Tanah Air meraih gelar juara dunia di Jerman pada 2006 dan Festival Teater Asia Pasifik di Jepang pada 2004. Saat mengikuti festival di Jepang, Jose mengaku punya kenangan khusus. Kala itu, Jose berniat mundur karena tidak mendapat sponsor dari swasta mau pun pemerintah. "Akhirnya mereka [panitia di Jepang] menyurati saya dan mereka bilang Indonesia satu-satunya negara yang kami biayai," kata Jose.
Kurangnya perhatian dari pemerintah mau pun swasta terhadap dunia seni peran disayangkan Jose. Indonesia, kata Jose, tidak pernah satu kali pun mengikuti festival teater di Jepang yang sudah 30 tahun digelar. Namun kondisi ini tidak mematahkan semangat mengajari seni peran terutama bagi kawula muda. Di usia Jose yang tak lagi muda, ia berharap seni teater bisa mendapat apresiasi dari masyarakat sehingga dapat dijadikan sebagai sandaran hidup.(KEN/Satya Pandia)